Pengamat: Dwi Soetjipto Terkesan ‘Menusuk’ Pertamina dari Belakang

137900

Jakarta, Indopetronews.com – Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) yang juga mantan Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero), Dwi Soetjipto, terkesan ‘mengkebiri’ peran Pertamina terkait komentarnya soal penurunan lifting. Demikian diutarakan oleh Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman dalam keterangan tertulis pada Indopetro, Selasa (30/7/2019).

Menurutnya, komentar Dwi Soetjipto yang menyatakan bahwa keputusan pengelolaan Blok Corridor pasca berakhirnya kontrak pada 2023 yang diberikan kepada ConocoPhillips lebih ditinjau dari kemampuan Pertamina.

Versi Dwi Soetjipto dalam konferensi pers di Kementerian ESDM Senin (29/7/2019), lanjut Yusri, kemampuan Pertamina dalam mengelola blok migas terminasi, di mana terus terjadi penurunan lifting, menjadi pertimbangan besar dalam pengelolaan Blok Corridor.

“Dwi Soetjipto mungkin lupa bahwa penurunan blok migas yang sudah beroperasi diproduksi di atas 30 tahun adalah wajar dan alamiah. Sehingga untuk mempertahankan produksi lazimnya dilakukan pengeboran sumur pengembangan atau menggunakan tehnologi EOR (Enhanced Oil Recovery),” kata Yusri.

Semua itu tergantung kemampuan kocek Pertamina yang terlalu banyak diberikan beban penugasan oleh pemerintah. “Bila Dwi Soetjipto meragukan kemampuan profesionalitas SDM di sektor hulu Pertamina itu ibarat menteri ESDM dan kepala SKK Migas sama dengan menampar muka sendiri. Karena sebenarnya merekalah yang bertanggung jawab soal pembinaan teknis di sektor hulu migas,” tandas Yusri. Harus dilihat juga bukti profesional Pertamina ketika mampu meningkatkan produksi Blok West Madura Offshore dan ONWJ ketika dulu diambil alih dari operator asing 10 tahun yang lalu.

“Dwi Soetjipto mungkin juga lupa sewaktu dia menjadi Dirut Pertamina pada 2017 pernah membeli aset blok migas di luar negeri terlalu mahal, yaitu ketika membeli blok migas masih status eksplorasi di tiga negara Afrika, yaitu Gabon, Tanzania dan Nigeria dari perusahaan Maurel & Prom, Prancis seharga puluhan triliun dengan total cadangan hanya 250 juta barel. Apakah itu tidak konyol? Dwi Soetjipto harus bisa membuktikan apa hasil dari membeli blok di luar negeri tersebut signifikan bagi penerimaan keuangan Pertamina,” tegas Yusri, sembari mengimbuhkan Dwi Soetjipto jangan asal bunyi dan meremehkan serta mengkerdilkan peran Pertamina.

“Dwi Soetjipto adalah bukti bahwa ketika Pertamina dipimpin oleh orang ‘indekost’ maka hasilnya tidak akan mumpuni,” tandas Yusri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*