Ada Upaya Cuci Tangan Dewan Komisaris dari Kasus Akuisisi Blok BMG Australia

16900

Jakarta, Indopetronews.com – Karen Agustiawan, mantan Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero) mengaku ada ketidaksinkronan antara Direksi dengan Dewan Komisaris. Salah satu contohnya adalah anggapan biding untuk Blok Basker Manta Gummy (BMG) di Australia tahun 2009 sekadar untuk melatih SDM. “Hal itu jelas tidak benar. Kita serius ikut biding,” kata Karen dalam sidang di pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (9/5/2019). Komisaris dan direksi telah memahami ikutsertanya Pertamina pada setiap biding untuk mendapatkan keuntungan buat perusahaan.

Apa yang diutarakan Karen diamini oleh mantan Direktur Keuangan (Dirkeu) PT Pertamina (Persero), Frederick ST Siahaan. “Kalau hanya sekedar untuk pelatihan SDM, dewan direksi tidak perlu meminta restu dari dewan komisaris. Sementara yang dilakukan Karen mewakili direksi lainnya untuk akuisisi Blok BMG telah melalui tahapan untuk meminta persetujuan dewan komisaris. Mana ada biding untuk main atau nyoba-nyoba, kalau untuk nyoba-nyoba ya mendingan kita nggak usah biding. Ngapain kita bayar konsultan mahal, ngapain kita bayarin biaya perjalanan kalau hanya untuk jalan – jalan belajar,” katanya.

Atas pernyataan dan kesaksian dari dewan komisaris yang sempat didatangkan sebagai saksi di dalam persidangan Karen, Frederick menyebut bahwa ada motif lain dibalik sikap inkonsisten dewan komisaris. Dia curiga dewan komisaris saat itu sengaja mempermainkan direksi Pertamina. “Komisaris tidak hanya cuci tangan (dalam masalah Blok BMG) tapi juga punya niat jahat kepada direksi. kalau saya nggak ada masalah dengan komisaris nggak tahu kalau dengan direksi lain,” tandasnya.

Sementara itu, mantan Komisaris Pertamina Gita Wirjawan, yang menjadi saksi di persidangan dengan terdakwa Karen, mengatakan bahwa direksi Pertamina memiliki pemahaman berbeda dengan dewan komisaris terkait bidding investasi di Blok BMG. Dewan komisaris mengatakan bidding hanya untuk pembelajaran SDM Pertamina, sementara direksi meyakini bidding dilakukan untuk menang akuisisi.

“Yang tanggal 30 April (2009) surat bidding itu tunggal dan tidak ada persetujuan lain, dan tidak ada kata-kata setelah itu itu adalah pelatihan atau apapun. Itu tunggal dan final,” bantah Karen dalam persidangan. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*