Istana Presiden Dikepung, Pekerja Pertamina Tuntut Jokowi Klarifikasi Ucapan Monopoli Bisnis Avtur

123600

Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) melakukan aksi demonstrasi di depan Istana Presiden Jakarta Pusat. Ada apa dibalik gerakan pekerja ini?

Sebanyak 500 orang pekerja Pertamina mulai melakukan aksi dengan berjalan kaki pada pukul 08.30, Selasa (19/2/2019) dari kantor Pusat Pertamina. Mereka berjalan beriringan secara tertib dan damai. Seraya meneriakkan yel yel, para demonstran ini juga membawa bendera merah putih dan bendera serikat pekerja. Ada pula yang membawa spanduk bertuliskan protes keras dan kritik tajam. Sebut saja misalnya tulisan ‘Jangan kambing hitamkan harga avtur Pertamina’, ‘Avtur Pertamina sudah kompetitif!’ ‘Bisnis avtur Pertamina jangan dianggap monopoli!’, dan tulisan nada protes lainnya.

Aksi ini diisi dengan berbagai orasi dari beberapa anggota serikat pekerja. Orasi dilakukan diatas mobil pick up. Dilakukan secara bergantian dan tertib. Isinya nyaris seragam; mengecam upaya pengkambinghitaman harga avtur Pertamina yang disebut mahal dan menyebabkan lesunya industri pariwisata dan perhotelan.

Disela-sela aksi, Arie Gumilar Presiden FSPPB, didampingi Hendra Nasution, Ketua Humas FSPPB dan Dicky Firmansyah, Sekretaris Jenderal (Sekjen) FSPPB menuju kantor Sekretaris Kepresidenan. Mereka siap mempresentasikan soal seluk-beluk bisnis avtur. Namun sayangnya, kedatangan mereka tidak disambut sebagaimana mestinya. Bahkan terlalu lama. Dengan raut wajah dan nada kecewa merekapun balik badan ke lokasi aksi.

Sesampainya di tempat aksi, mereka baru mendapat kabar untuk diterima. Karena terlalu lama menunggu, mereka pun menghiraukan kabar tersebut. “Kami sudah nunggu lama. Waktunya sudah keburu habis,” begitu cetus Dicky.

Dicky juga menjawab saat ditanyakan tindaklanjut dari aksi di depan istana Presiden. “Kami sedang lakukan konsolidasi lagi. Tidak tertutup kemungkinan, kita akan lakukan aksi-aksi industrial. Dan ini sah dilakukan sepanjang sesuai aturan dan perundang-undangan,” tandasnya.

Dicky juga membantah keras pernyataan Presiden Jokowi yang menyebut Pertamina melakukan monopoli bisnis avtur. “Bukan Pertamina yang melakukan monopoli tapi karena tidak adanya kompetitor lain yang masuk sektor ini. Bisnis avtur sudah dibuka krannya melalui Undang-undang beberapa tahun lalu,” kata Dicky. Pertamina tidak pernah menutup pintu bisnis avtur. Silakan saja siapa pun dapat masuk dan berkompetisi secara sehat.

Dicky juga menjawab saat ditanyakan, apakah keberpihakan pemerintah pada Pertamina sebatas slogan. “Esensi tuntutan kita adalah seluruh cabang-cabang produksi yang penting dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Termasuk rantai-rantai bisnisnya. Seyogyanya bisnis-bisnis seperti avtur yang mempengaruhi ekonomi nasional dikuasai oleh negara,” paparnya.

Sementara Presiden Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB), Arie Gumilar, menyayangkan sikap pemerintah yang justru mengkambinghitamkan Pertamina atas mahalnya tiket pesawat. Bahkan Pertamina dituding telah melakukan monopoli terhadap penjualan avtur. Padahal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) sendiri telah menyatakan bahwa harga Avtur tidak berdampak langsung bagi harga tiket pesawat.

Arie menambahkan harga avtur dalam beberapa periode terakhir justru menunjukkan tren pelemahan karena harga minyak dunia yang juga turun. Oleh sebab itu dia menyesalkan pernyataan pemerintah yang seakan-akan malah menyudutkan Pertamina. FSPBB menuding adanya pihak-pihak tertentu yang berencana memanfaatkan situasi kisruh harga avtur untuk mengkerdilkan peran Pertamina dalam melayani distribusi energi di seluruh bandara dalam negeri.

“Masyarakat harus paham bukan avtur penyebabnya (tiket pesawat naik). Harga avtur Pertamina sudah sangat kompetitif, nomor 3 paling murah di Asia Tenggara, artinya apa harga avtur Pertamina ini bukan harga yang mahal yang akan berdampak pada mahalnya tiket pesawat,” kata Arie. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*