Mantan Dirut Pertamina: Saya Sudah Minta Ijin Komisaris Akuisisi Blok BMG Australia

71400

Sejatinya kesaksian mantan Komisaris PT Pertamina (Persero), Humayun Bosha di Pengadilan Tipikor Jakarta bila dijadikan alat bukti, harus gugur. Karena ada mis understanding antara Humayun dan Karen Agustiawan selaku Direktur Utama (Dirut) Pertamina. Demikian diungkapkan Eks Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero) Galaila Karen Kardinah Agustiawan atau dikenal Karen seusai menjalani sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Jumat (15/2/2019).

“Mestinya kalau memang mau dipakai kesaksiannya sebagai alat bukti, mestinya harus gugur. Karena ada mis understanding saja,” kata Karen.

Menurutnya, kesaksian Humayun tersebut menjadikan Karen Agustiawan sebagai tersangka. “Kesaksian Pak Humayun yang menyatakan bahwa biding adalah latihan. Padahal saat itu, saya jadi Direktur Hulu Pertamina dari tahun 2008. Sedang beliau masuk jadi Komisaris Pertamina pada tahun Maret 2009. Karena aspirasi Direktorat Hulu belum dimengerti beliau, bahwa Pertamina bercita-cita menjadi world class operator offshore dan onshore” papar istri Herman Agustiawan ini. Rencana jangka panjang ini yang belum dipahami.

“Dalam surat saya juga jelas disebutkan ‘saya minta ijin untuk akuisisi PI BMG. Di dalam surat itu juga jelas disebutkan tidak minta pelatihan untuk biding. Karena saya juga pernah berhasil, yaitu pada tahun 2008 menang biding di Tuban,” papar Karen.

Dia juga mengutarakan bahwa proses biding dimana-mana, baik ditingkat internasional dan domestik, itu sama. “Perbedaannya adalah dimana kita akan operate, mau offshore atau onshore. Saya ingin Pertamina punya pengalaman itu sebelum masuk ke ONWJ,” ujar Karen.

Di dalam sidang, lanjut Karen, Bapak Humayun, telah mengakui beliau baru dan baru bekerja dengan saya 2 bulan sehigga wajar bila ada miskomunikasi. “Tapi yang kita sayangkan, kesaksian beliau itu yang membuat saya dan rekan-rekan menjadi tersangka. Makanya, ini harus dikonfrotir. Bahwa ada mis understanding,” katanya.

Lebih jauh Karen berharap agar kasus yang menimpanya ini segera selesai. “Ini bukan persoalan Karen tapi ini aksi korporasi yang telah sesuai dengan prinsip-prinsip manajemen perusahaan yang benar,” tandas Karen sembari menambahkan bahwa tidak ada kerugian negara dalam aksi korporasi yang dipimpinnya.

Sebelumnya, dalam sidang tersebut juga Bono Jatmiko, saksi ahli dari pihak jaksa penuntut umum Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat (Kejari Jakpus). Bono menyampaikan akan merevisi laporannya tentang perhitungan kerugian keuangan negara kasus investasi di Blok BMG, Australia pada tahun 2009. Perhitungan kerugian negara tersebut dilakukan atau dikeluarkan dari Kantor Akuntan Publik (KAP) Soewarno yakni sejumlah Rp568.066.000.000.

“Saya akan revisi,” kata Bono saat dihadirkan sebagai saksi ahli dari pihak jaksa penuntut umum Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat (Kejari Jakpus) yang menghitung kerugian negara investasi tersebut di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Jumat (15/2/2019).

Bono yang memberikan pendapat dalam sidang perkara dugaan tindak pidana korupsi investasi Blok BMG yang membeloit terdakwa Ferederick Siahaan dan Bayu Kristianto. Ahli hendak merevisi laporan setelah pihak tim kuasa hukum terdakwa menanyakan siapa yang menentukan kerugian negara.

“Jadi tugas saya hanya untuk menghitung atas angka-angka yang didapat dari laporan keuangan atau BAP. Tapi untuk itung ada tidaknya kerugian negara itu ahli lain,” kata Bono.

Mendapat jawaban tersebut, tim kuasa hukum menanyakan siapa ahli atau pihak yang menyatakan bahwa terjadi kerugian keuangan negara. Bono kemudian menyebut nama Prof. Sumardio dan Agus Guntoro. Menurutnya, permasalahan ini disampaikan kepada yang bersangkutan saat bertemu di Kejaksaan Agung (Kejagung).

Tim kuasa hukum lantas menanyakan bahwa nama kedua orang tersebut tidak ada dalam BAP saksi ahli yang menjadi dasar pemeriksaan perkara di persidangan. Karena itu, Bono sempat akan merevisinya. “Jadi BAP Pak Sumardio belum dapat,” ujarnya.

Disinggung perkaranya sedang disidangkan dan perhitungan ini menjadi dasar untuk menentukan kerugian keuangan negara, akhirnya Bono mengatakan laporan ini final. Jawaban tersebut disampaikan saat dikonfirmasi karena perkaranya sedang disidangkan apakah final atau akan direvisi.
“(Tadi akan direvisi untuk) kemperkuat keterangan Sumardio.

Terkait keterangan saksi ahli ini, kuasa hukum terdakwa Federick Siahaan, Hotma Sitompul, menilai bahwa saksi ahli yang dihadirkan penuntut umum tidak kredibel.

“Dia tidak bisa dijadikan ahli di sini. Tidak pantas menjadi ahli. Mustinya yang diajukan, yang kompeten lah, ahli yang ngikutin semua dan tahu semua. Kalau dia tidak tahu apa-apa, kalau hanya tanda tangan bikin berkas 160 halaman, 10 hari jadi. Dia dapat data-data dari orang, dia percaya, dia tdk periksa sendiri,” ujarnya.

Hotma menyampaikan, sesuai keterangan Bono di persidangan, bahwa perhitungan kerugian keuangan negara atas investasi di Blok BMG, Australia itu berdasarkan keterangan di BAP dan laporan yang diberikan dari penyidik.

“Tadi saya tanyakan, kami membuat kesimpulana ada kerugian dari BAP, BAP. Padahal BAP itu berubah. Dia tidak bisa menjawab. Pertanyaan saya begini, kalau dasar perhitungan suadara berubah, berubah enggak perhitungan untung ruginya, ya berubah,” katanya.

Hotma memperoslkan karena BAP tersebut belum final. “Kalau bilang di BAP si A tidak hadir dalam rapat-rapat, makanya rugi. Padahal kemudian dalam BAP-nya, Oh iya saya lupa, sebetulnya saya hadir. Nah, ini gimana? Dia hanya menyadur dari BAP-BAP yang berubah-beurbah. Makanya kemudian dibilang ada kerugian, kan lucu,” ujarnya.

Sementara itu, mantan anggota Dewan Komisaris Pertamina yang dihadirkan sebagai saksi untuk terdakwa Bayu menyampaikan, bahwa dewan komisaris memberikan persetujuan hanya untuk biding atau lelang Blok BMG.

Namun menurut Umar, pihak dewan komisaris tidak mencantumkan dalam surat bahwa pihaknya mengizinkan ikut biding tapi bukan untuk menang. “Pertimbangannya tidak untuk ditulis, nanti Australianya marah kalau ditulis,” ujarnya.

Ketika salah satu anggota majelis hakim menanyakan bagaimana teknisnya biding agar tidak menang, menurutnya itu kewenangan direksi. Ia hanya memprediksi mungkin dengan penawaran yang rendah atau tidak terlalu agresif. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*