Pengamat : Inalum Diduga Beli PI Rio Tinto Bodong di Freeport

334000

Ada sinyalemen penggelembungan dana alias mark up dalam pembelian saham participating interest (PI) Rio Tinto di PT Freeport Indonesia (PTFI). Bahkan, diduga suratnya pun bodong. Demikian diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), Yusri Usman.

Yusri mendasarkan pernyataannya pada buku karya Simon Fellix Sembiring. Buku tersebut berjudul ‘Satu Dekade Nasionalisme Pertambangan: Mengungkap Karut-marutnya Implementasi UU Minerba
dan Divestasi Freeport yang Penuh Jebakan’.

“Buku tersebut ternyata melampirkan surat rahasia persetujuan oleh Mentamben IB Sujana dan Marie Muhammad pada April 1996 untuk PI Rio Tinto hanya di Blok B, bukan Blok A. Tapi menurut Simon Sembiring, surat Menteri IB Sujana itu tidak lazim dan melanggar pasal 28 ayat 2 Kontrak Karya. karena dari nomor surat berkode “SJ” artinya Sekretariat Jenderal, bukan “DJP” Ditjen Pertambangan Umum. Karenanya surat itu tidak melalui pertimbangan teknis dari Dirjen Pertambangan Umum. Bila mengacu pada Kontrak Karya, PI Rio Tinto tidak mempunyai legal standing,” kata Simon, dalam bukunya. Dan yang lebih lucu, lanjutnya, soal PI Rio Tinto itu tidak diketahui oleh Menteri ESDM dan Dirjen Minerba paska periode Menteri IB Sujana.

Kemudian baru terbongkar pada saat proses negoisiasi antara PT Inalum dengan PT Freeport Indonesia pada Agustus 2017.

Bahkan, lebih jauh Simon mengatakan, PI itu tidak pernah tercermin didalam RKAB (Rencana Kerja Anggaran Biaya) yang merupakan kewajiban rutin setiap tahun, yang harus dibuat oleh pemilik KK dan PKP2B serta harus setelah disetujui oleh Dirjen Minerba baru pemilik KK dan PKP2B bisa mulai bekerja menambang.

Menurut Yusri, atas dasar buku yang ditulis Simon tersebut, dapat dikatakan bahwa boleh jadi PI Rio Tinto diduga bodong atau bisa jadi nilai yang dibayarkan oleh PT Inalum sangat mahal dan berpotensi merugikan negara.

“Buku Simon Sembiring bisa dijadikan alat bukti untuk dilaporkan ke KPK. Buku ini menurut saya bisa bikin geger republik karena diluncurkan tepat ditahun politik. Khususnya bikin geger kalangan dunia pertambangan. Nah, informasi ini seharusnya tidak dilewatkan begitu saja oleh penegak hukum,” kata Yusri dalam keterangan persnya, Senin (4/2/2019) di Jakarta.

Sebagai catatan, dalam rangka memperingati Ultah ke-70, Simon Fellix Sembiring meluncurkan buku berjudul ‘Satu Dekade Nasionalisme Pertambangan: Mengungkap Carut-marutnya Implementasi UU Minerba
dan Divestasi Freeport yang Penuh Jebakan’. Peluncuran buku berlangsung di Hotel Luwansa, Jakarta, Selasa (29/1/2019). Diketahui, Simon adalah mantan Direktur Jenderal Mineral & Batu Bara Departemen ESDM (2003-2008). Buku ini ditulis dari kegelisahannya melihat dua fenomena besar di dunia pertambangan. Pertama, impelementasi UU No. 4/2009, atau biasa disebut UU Minerba yang berlangsung carut-marut setelah 10 tahun diundangkan. Kedua, divestasi PT Freeport Indonesia (PTFI) yang meskipun telah dikuasai 51% oleh Pemerintah RI, namun menyisakan begitu banyak persoalan. Simon juga arsitek UU Minerba. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*