SP PLN Sebut PLN Rugi dan Ada Pelemahan Internal

12200

 

Situasi PT PLN (Persero) sangat rawan bila ditilik dari berbagai segi. Ada beberapa aspek yang membuat perusahaan setrom ini harus waspada. Pertama, kasus korupsi mega proyek PLTU Riau 1 serta kasus-kasus berbau korupsi lainnya yang saat ini sedang ditangani aparat hukum. Kedua, kondisi keuangan PLN yang merugi sampai TW 3 mencapai Rp 18.48 Triliun. Ketiga, upaya pelemahan diinternal PLN yang sengaja diciptakan berupa memburuknya hubungan industrial karena pelanggaran kesepakatan dan peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan. Upaya musyawarah dan perundingan dihentikan sepihak oleh Direksi PLN. Deadlock.

Kasus korupsi pengadaan pembangkit program 35.000 MW yang diserahkan ke swasta. “Ini menyita perhatian publik,” kata Ketua Umum Serikat Pekerja (SP) PLN, Jumadis Abda pada sejumlah media, Rabu (5/12/2018) di Jakarta. Sebut saja misalnya yang terungkap dalam pengadaan pembangkit untuk PLTU Riau 1 yang di OTT oleh KPK.

Pada kasus ini, ungkap Jumadis, begitu kasat matanya kongkalingkong dan rekayasa yang dibuat oleh Direksi PLN agar pihak swasta yang dikawal oleh ‘orang-orang berpengaruh’ di negeri ini bisa ‘mendapatkan’ proyek pembangkit itu tanpa melalui prosedur yang wajar dengan penunjukan langsung. “Dibuat seolah-olah penugasan ke anak perusahaan PLN. Seolah-olah 51% kepemilikan dimiliki oleh anak perusahaan PLN. Padahal tidak demikian adanya. Saham 51% hanyalah semu. Sebagian besar biaya justeru berasal dari pihak swasta yang dibelakangnya lebih parah lagi juga asing yang bermain,” katanya. Perusahaan swasta nasional hanya dijanjikan sekian persen fee.

Kasus ini, ungkap Jumadis, telah membuka mata publik bahwa memang ada sesuatu yang tidak beres dalam program 35.000 MW itu yang hampir 80% diserahkan ke swasta yang selalu dikritisi oleh SP PLN karena akan menimbulkan kerugian kepada PLN. “Kenapa tidak negara yang membangun, memilikl dan menguasai? Padahal ini yang menyangkut hajat hidup orang banyak sesuai UUD 1945 pasal 33 ayat 2 seharusnya dikuasai dan dimiliki oleh negara yang dalam pelaksanaannya dilakukan melalui BUMN,” tandasnya.

Dia juga menyatakan bahwa kongkalikong seperti ini telah menurunkan citra PLN dimata masyarakat. “Citra PLN jatuh sampai pada titik nadir. Karena korupsi adalah kejahatan luar biasa (extraordinary crime).

Disamping itu, imbuh Jumadis, adalah dimana kondisi keuangan dan kerugian PLN semakin memburuk. “Setiap tahun sejak kepemimpinan Direksi PLN saat ini keuntungan PLN terus menurun. Walau telah berusaha dipoles sedemikian rupa laporan laba ruginya. Bahkan sampai TW 3 2018 ini PLN telah mengalami kerugian Rp. 18,48 Triliun. Suatu angka yang tidak dapat dikatakan kecil, sangat besar,” katanya.

Terkait kondisi PLN yang memburuk, sambung Jumadis, sebenarnya telah diprediksi sejak lama. Apalagl diakhir 2017 yang lalu Menteri Keuangan sudah menyampaikan bahwa kondisi keuangan PLN sangat mengkhawatirkan dan bisa menyebabkan gagal bayar dan dapat beresrko terhadap keuangan negara.

Oteh sebab itu Menkeu mengingatkan dan memberi solusi agar permasalahan energi primer yang merupakan biaya terbesar di PLN menjadi perhatian.

“Kerugian yang ditanggung PLN tentu saja pada akhirnya akan dibebankan kepada rakyat dalam bentuk kenalkan tarif atau penambahan subsidi. Hal ini tentu tidak kita inginkan bersama. Karena dengan sendirinya rakyat akan semakin susah dan perekonomian negara akan semakin terpuruk,” paparnya.

Selain tersangkut kerugian yang mencapai puluhan triliun dan tersangkut korupsi, sambung Jumadis, permasalahan PLN lainnya yakni upaya pelemahan diinternal PLN yang dilakukan oleh Direksi PLN. Direksi PLN melakukan ketidaktaatan terhadap kesepakatan yang telah dibuat berupa Perjanjian Kerja Bersama (PKB) dan peraturan perundang-undangan yang ada.

“Kesepakatan dan peraturan-peraturan yang ada terkait ketenagakerjaan dilanggar dan tidak diikuti. Seotah-olah ada grand disign untuk menurunkan motivasi kerja pegawai yang pada akhirnya membuat produktihtas kerja menurun. Sehingga PLN semakin terpuruk,” katanya. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*