Saatnya Indonesia Terapkan Teknologi Cerdas, Seperti Mobil Listrik

13300

Sudah saatnya Indonesia menerapkan teknologi cerdas dan berdaulat di bidang industri. Pasalnya, negeri ini tidak lama lagi bakal memiliki 14.000 insinyur profesional.

“Insya Allah, kita bisa mencapai insinyur profesional yang ke 14.000. Program insinyur profesional itu dimulai pada tahun 1997. Kita lakukan bersama dengan 32 negara,” kata Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Dr. Ir. Hermanto Dardak, dalam acara Press Conference menuju Kongres Persatuan Insinyur Indonesia (PII) ke 21 dan Dialog Nasional Bertajuk ‘Meningkatkan Profesionalisme Sumber Daya Keinsiyuran dan Penerapan Teknologi Cerdas : Mewujudkan Kedaulatan Industri Indonesia’ pada Jum’at (16/11/2018) pukul 17.30 WIB di Bebek Bengil, Jl. H. Agus Salim No. 132, Gondangdia, Menteng, Jakarta.

Menurut Hermanto, dari 14.000 insinyur profesional tersebut, sebanyak 350 insinyur telah diakui ditingkat Asean. Mereka mengantongi sertifikat Asean Engineer Register.

Karena itu, lanjut Hermanto, PII harus betul-betul melayani publik/masyarakat. “Kita harus membangun lingkungan yang sedemikian rupa yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sesuai dengan zamannya,” ungkap Hermanto.

Saat ini zaman disrupsi, zaman internet dan zaman pengurangan zat emisi karbon. Contohnya, kata Hermanto, kebutuhan mobil listrik. “Selayaknya kita sudah bisa menerapkan mobil listrik, yang bunyinya tidak berisik tapi tanpa emisi sehingga udara jadi bersih dan sehat,” tandas Hermanto.

Oleh sebab itu, ungkap Hermanto, pada Kongres PII ke 21 pada tanggal 6 – 7 Desember 2018 di Padang Sumatera Barat, mengambil tema tentang pentingnya membangun SDM keinsinyuran yang mampu memberi nilai tambah secara nasional dan kompetitif dengan negara-negara lain.

“Ini kita lakukan dengan antara lain membangun profesionalisme SDM,” tuturnya. Menurut catatan PII, saat ini telah terdaftar 900.000 insinyur. Sesuai UU Keinsinyuran, diharapkan keprofesionalan tukang insinyur semakin hari semakin meningkat. Masih menurut UU Keinsinyuran, bila mereka (para insinyur) berpraktik, mereka harus terdaftar di PII sehingga semua pelayanan keinsinyuran harus teregistrasi di PII. Jadi harus ada quality accurent dan quality control yang meyakinkan bahwa masyarakat dilindungi. “Jangan sampai ada kecelakaan dari proses pembangunan yang dikerjakan oleh para insinyur di bidang apa pun, termasuk bidang-bidang oil and gas maupun energi serta pertambangan,” kata Hermanto.

Saat ini PII memasuki usia ke 66 tahun. Dalam usia 66 tahun, boleh dikatakan bahwa kalangan insinyur membuat dunia baru, lingkungan terbangun yang semakin lama semakin baik dengan semakin lengkapnya kebutuhan manusia. “Kita bisa bandingkan antara tahun ’50 – an dengan sekarang. Lingkungan dan terbangunnya perubahan lain, termasuk sistem dan prosesnya. Dan yang perlu dijaga betul adalah modern tapi tetap harmoni,” ungkap Hermanto.

Sementara itu, Ir. Made Dana Tangkas, M.Si, IPU selaku Ketua Panitia Penyelenggara merasa antusias dan senang dapat menyelenggarakan Kongres PII ke 21 dan Dialog Nasional ini.

“Kongres ke 21 mendatang merupakan masih dalam suasana yang berdekatan dengan beberapa acara keinsinyuran seperti CAFEO Conference of ASEAN Federation Engineering Organization di Singapore dan membawa tantangan tersendiri dalam penyelenggaraan kongres PII ke 21 dan Dialog Nasional ini, PII akan mendukung untuk tetap mengirimkan delegasi ke CAFEO. Harapannya dengan diadakannya kegiatan ini dapat menghasilkan langkah besar ke depan untuk kemajuan keinsinyuran di Indonesia maupun hingga ASEAN. Kami mengharapkan peran dan partisipasi para insinyur seluruh pengurus PII baik di pusat maupun wiayah dan cabang serta dukungan semua pihak yang berkepentingan dengan kemajuan keinsinyuran Indonesia bagi keberhasilan Kongres PII ke 21 dan Dialog Nasional ini sehingga dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat dan negara Indonesia,” kata Made.

“Semoga ajang ini menjadi bagian momentum pertumbuhan Indonesia yang dilandasi kemandirian teknologi dan kemajuan negara Indonesia dari inovasi, daya saing dan nilai tambah yang dihasilkan insinyur, agar di tahun 2025 dan 2045 tercapai semua capaian yang diprediksi dari kekuatan nasional,” ujar Made. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*