Ini Faktor Penentu Investor Berbisnis di Hulu Migas

37000

Investor akan memutuskan akan berinvestasi di hulu minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia atau tidak ditentukan oleh Internal Rate of Return (IRR). “Investor akan menghitung kalau dia tanamkan dananya di hulu migas di Indonesia, investasinya itu akan menghasilkan IRR berapa persen. Dia (investor) juga akan membandingkan kalau dia tanam dana investasi di Afrika IRR nya berapa persen. Bila ditanam di Vietnam IRR nya berapa persen,” kata Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Amien Sunaryadi dihadapan sejumlah media, Kamis (8/11/2018) di Ciloto, Bogor Jawa Barat. Yang pasti investor akan mencari IRR yang besar.

Bila urusan investasi di Tanah Air kondusif dan prosesnya cepat pasti IRR nya akan tinggi. “Kalau IRR investasi di Indonesia lebih tinggi dari Afrika dan Vietnam atau dengan negara-negara lainnya, investor otomatis akan berinvestasi di Indonesia,” tandas Amien. Jadi, IRR yang diperhatikan oleh investor.

Menurut mantan Komisioner KPK ini, tren investasi hulu migas banyak dipengaruhi oleh besar-kecilnya discovery sebuah lapangan. “Kalau ada discovery yang besar maka investasi untuk pembangunan fasilitasnya akan besar. Tapi bila discovery hanya kecil-kecil maka pembangunan fasilitasnya juga kecil,” ungkap Amien. Dengan kata lain, membangun fasilitas kecil berarti nilai investasinya kecil. Membangun fasilitas besar berarti nilai investasinya juga besar. Jadi faktornya terletak pada discoverynya.

Amien juga mengungkapkan kinerja institusinya. “Dari sisi cadangan migas, akan tercapai. Sedang untuk penerimaan negara dari migas juga tercapai. Target lifting dan investasi tidak tercapai,” katanya.

Berdasarkan catatan SKK Migas, sejak Januari sampai Oktober 2018, investasi hulu migas hanya US$ 8,7 miliar atau 61% dari target investasi tahun ini sebesar US$ 14,2 miliar. SKK Migas memprediksi hingga akhir tahun investasi hulu migas hanya mencapai US$ 11,2 miliar atau 79% dari target.

Selama tiga kebelakang, yaitu tahun 2015 investasi migas mencapai US$15,33 miliar. Pada tahun 2016, turun menjadi US$ 11,6 miliar. Setelah itu, pada 2017 turun lagi menjadi US$ 10,27 miliar.

Amien juga menyatakan, salah satu penyebab investasi tak tercapai adalah belum adanya penemuan cadangan migas besar di Indonesia. Padahal penemuan cadangan dapat mendongkrak investasi karena akan mendorong pembangunan fasilitas produksi.

Penemuan cadangan migas besar saat ini hanya Banyu Urip di Cepu Jawa Timur, dan Jangkrik di Blok Muara Bakau di Kalimantan Timur. Menurutnya rata-rata penemuan cadangan migas besar ditemukan oleh investor asing seperti ENI, ExxonMobil dan Total. PT Pertamina (Persero) pun jarang menemukan temuan cadangan migas. Penyebabnya, minimnya kegiatan eksplorasi.

Walaupun demikian, Amien mentargetkan tahun depan investasi migas akan membaik. Penyebabnya ada komitmen kerja pasti dari kontraktor yang mendapatkan blok migas terminasi. Salah satunya adalah Pertamina di Blok Jambi Merang. Blok ini habis 2019 mendatang, total komitmen kerja pastinya US$ 239,3 juta atau sekitar Rp 3,3 triliun. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*