KSPMI : Permen 23/2018 Langkah Mundur

28200
KSPMI : Permen 23/2018 Langkah Mundur

JAKARTA (INDOPETRO)- Terbitnya Peraturan Menteri (Permen) ESDM No. 23 Tahun 2018, (sebelumnya Permen Nomor 15 Tahun 2015) adalah langkah mundur. Mengapa disebut kemunduran?

“Permen 23/2018 gesturnya ingin melanggengkan operasi Chevron di Blok Rokan. Padahal ini momentum bagi negara untuk mendapatkan keuntungan bagi negara, yaitu Chevron harus membayar PI sejumlah reserve dan survei yang ada di Rokan,” kata Fauzan Muttaqien, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Konfederasi Serikat Pekerja Migas Indonesia (KSPMI) pada sejumlah wartawan seusai acara Fokus Grup Diskusi (FGD) KSPMI dalam rangka memperjuangkan ketahanan dan kedaulatan energi migas Indonesia: “Menggugat Permen ESDM 23/2018 tentang Pengelolaan WK Migas Habis Kontrak” pada Kamis (31/5/2018) di Jakarta. Bila bentuknya perpanjangan maka yang diterima pemerintah lebih kecil kalau hanya dalam signature bonus.

Menurutnya, kalau Chevron nantinya harus bekerjasama secara business to business dengan Pertamina dan dia (Chevron) harus bayar PI sesuai dengan berapa nilai keekonomian yang ada Blok Rokan, yang mencakup sejumlah cadangan dan survei facilities maka potensi keuntungan negara jauh lebih besar.

Dia mengutarakan pemerintah berdalih terbitnya Permen 23/2018 untuk menjaga agar produksi tidak turun. “Alasan itu tidak masuk akal. Kita sudah buktikan di ONWJ, WMO dan Mahakam,” katanya.

Lebih jauh Fauzan menandaskan bahwa Permen 23/2018 secara hirarki ada di bawah Perpres, ada di bawah PP, ada di bawah UU. “Permen ini miss conduct atau salah arah. Maunya UU kemana. Maunya PP kemana tapi ditafsirkan oleh peraturan teknis di bawahnya salah arah. Seharusnya ini batal demi hukum karena maunya UU adalah mengarah pada ketahanan energi, kedaulatan energi tapi Permennya malah memberikan kewenangan pada operator eksisting yang notabene operator asing,” cetusnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Noviandri, Dewan Penasehat KSPMI. Menurutnya, bila menyangkut ketahanan energi maka terdapat 4 kriteria, yaitu availability (ketersediaan), accessibility (kemudahan), affordability (keterjangkauan) dan acceptability (mutu).

“Kalau bicara soal kedaulatan harus dilihat dari pandangan keberpihakan. Keberpihakan pemerintah sangat berperan dalam hal kedaulatan. Tapi saat ini pemerintah membuat kebijakan jauh dari nalar sehat dan tidak logis. Karena sangat terkait dengan tahun politik, pemerintah butuh dana cepat dan mau tidak mau BUMN harus siap, bila ada yang menolak copot direksinya dan ganti,” ungkap Noviandri.

Khusus Pertamina, lanjut Noviandri, beban BBM satu harga, harga jual BBM tidak naik padahal harga crude sudah naik. Bahkan BBK produk Pertamina seperti Pertalite, Pertamax itupun diatur oleh pemerintah. “Untuk naik harga saja tidak boleh tetapi kalau swasta boleh. Dimana keberpihakannya? Kita masih jauh dari kedaulatan seperti yang diinginkan Nawacita,” tandasnya. Karena itu, Noviandri tidak ragu menyatakan bahwa tindakan demikian boleh disebut bagian dari pengkhianatan terhadap cita cita Presiden.

Pun dengan Permen ESDM Nomor 23/2018. “Aneh karena lahirnya tidak ujuk-ujuk tapi sudah ada pejabat yang mengkampanyekan dengan menyebutkan Pertamina belum tentu akan mengelola blok blok Terminasi. Dalam Permen ini disebutkan bahwa bilamana ada blok terminasi maka prioritas utama untuk mengelolanya diserahkan ke kontraktor eksisting padahal dalam Permen sebelumnya yaitu No. 15/2015 dimana harus diserahkan ke Pertamina dulu,” ungkap Noviandri.

Artinya, Permen 23/2018 jauh dari keberpihakan kepada bangsa dan negara maka kedaulatan semakin jauh. Untuk itu penolakan lahirnya Permen 23/2018 oleh banyak kalangan harus menjadi koreksi bagi pemerintah, karena justru menjadi blunder bagi pemerintah.

Diketahui, alasan pemerintah dalam konsiderannya pada Permen 23/2018, mengatakan bahwa supaya program kerja pengelolaan blok agar memberikan manfaat yang lebih besar, agar produksi tidak turun dan kompetisi tidak sehat. Hal itu, lanjut Noviandri, terlalu mengada-ngada, karena hal ini juga telah akomodir pada Permen 15/2015. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*