Perang Dagang AS Vs China Batal, Pasar Minyak Bernafas Lega

14300
Konsumsi Listrik Lebaran Jawa-Bali Diprediksi Mencapai 16.000 MW
Foto : bisnis.com

JAKARTA (INDOPETRO)- Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China ditunda, karena keduanya sepakat membatalkan ancaman bea impor masing-masing sementara negosiasi bilateral berlangsung. Demikian diungkapkan Menteri Keuangan AS, Steve Mnuchin, Minggu (20/5/2018).

Pembatalan ini pun berpengaruh pada pasar minyak. “Amerika Serikat dan China setuju untuk tidak (melakukan) perang dagang akan positif bagi harga minyak, karena kemungkinan perang dagang total bisa menghantam pertumbuhan global secara siginifikan,” kata Stephen Innes, pimpinan perdagangan Asia-Pasifik di OANDA Singapura.

Terlepas dari itu, harga minyak diperkirakan masih akan menjauh dari rekor harga tertinggi sejak November 2014 yang dicapai minggu lalu. Sejumlah pelaku pasar dan analis yang diwawancarai Reuters mengatakan bahwa ada cukup pasokan untuk memenuhi permintaan minyak global, meskipun pemangkasan output yang dipelopori OPEC masih berlangsung, krisis di Venezuela menyusutkan produksi Amerika Selatan, dan AS kemungkinan menerapkan sanksi atas Iran.

“Tanpa adanya eskalasi risiko geopolitik lebih lanjut, harga minyak kemungkinan akan mengalami pullback,” ujar Greg McKenna, pimpinan strategi pasar di AxiTrader.

Faktor lain yang turut membebani harga minyak adalah limpahan produksi minyak shale AS. Pada akhir pekan lalu, Baker Hughes melaporkan bahwa jumlah oil drilling rigs di negeri Paman Sam tetap berada pada angka 844, sama dengan periode penghitungan sebelumnya. Ini merupakan angka tertinggi sejak Maret 2015.

Diketahui, harga minyak terdongkrak naik pada awal perdagangan pada Senin (21/5/2018), karena kabar bahwa China dan Amerika Serikat menangguhkan perang dagang antara keduanya. Pada hari Kamis minggu lalu, kedua harga minyak acuan dunia tersebut sempat capai rekor harga tertinggi sejak 2014 tetapi mengalami koreksi pada hari Jumat. Meski demikian, melonggarnya ketegangan perang dagang mendorong Brent diperdagangkan naik 0.62% ke USD79.11, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menanjak 0.64% ke USD71.82. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*