Upaya Merevitalisasi Pertamina

26600
Calon Dirut Pertamina Definitif Harus Ahlinya
Foto: komoditas.co.id

JAKARTA (INDOPETRO)- Sudah hampir sebulan, sejak 20 April yang lalu, perusahaan sebesar dan sepenting Pertamina tidak memiliki Direktur Utama. Menurut Salis S. Aprilian, pensiunan PT Pertamina, kondisi tersebut sungguh aneh dan meremehkan aturan GCG (Good Corporate Governance) sebuah Perusahaan Terbatas (PT) yang selama ini menomor-satukan aturan itu.

“Pertamina seharusnya dapat memainkan peran yang lebih besar dalam mengelola bisnis hulu dan hilir migas yang secara alami memang sering bertolak belakang,’ kata Salis, Jumat (18/5/2018) di Jakarta. Namun karena dibatasi dengan aturan dan penugasan-penugasan sehingga jangankan ikut berlari dengan perusahaan migas lainnya, bangun dan berdiri pun sudah kepayahan.

Menurut Salis, perolehan keuntungan dari hasil jualan minyak mentah tentunya bergantung dari aktifitas eksplorasi dan produksi di sektor hulu. “Dalam kondisi harga minyak tinggi, sumur-sumur yang tadinya tidak ekonomis dapat dibuka kembali sehingga produksi meningkat dan keuntungan perusahaan naik signifikan. Tapi sudah terlanjur di saat harga minyak rendah aktifitas eksplorasi dibatasi karena dianggap tidak mendatangkan pendapatan secara cepat (quick yield), sehingga pada saat harga minyak naik tidak ada cadangan baru yang dapat diproduksikan,” katanya. “Tabungan” cadangan migas pun tergerus habis pelan-pelan tapi pasti, karena kebutuhannya yang terus meningkat.

“Jangan heran jika makin lama kita mengimpor minyak mentah dan BBM semakin banyak, karena di tengah harga minyak yang rendah budaya konsumtif masyarakat justru terus meningkat, sementara produksi minyak terus menurun karena tidak sedikit lapangan yang menjadi tidak ekonomis dan ditutup,” tandasnya. Hal ini menyebabkan reserve replacement ratio, yakni perbandingan cadangan yang ditemukan terhadap produksinya, di bawah 1 (satu). “Artinya dunia minyak kita sudah lama dalam kondisi “defisit”. Besar pasak daripada tiang,” ujarnya.

Sekarang, tambah Salis, Pertamina akan dibangun(kan) kembali dengan dua cara sekaligus, yakni di sektor hulu diberi hak pengelolaan lapangan-lapangan migas yang berakhir masa kontraknya dan di sektor hilir didorong untuk membangun kilang minyak baru (GRR – grass-root refinery), dan pengembangan kilang lama (RDMP – refinery development master plan).

“Tapi disengaja atau tidak, penyerahan WK (wilayah kerja) yang tanpa didahului dengan due-diligence dan transisi operasi yang serius justru dapat menyebabkan meningkatnya liabilitas, bukannya profitibiltas, perusahaan. Aset-aset yang sudah tua tentunya banyak memerlukan biaya perawatan/pemeliharaan/restorasi yang tinggi di tengah kesulitan mencegah penurunan produksi secara alamiah,” paparnya.

Di sektor hilir, imbuhnya, dengan akan dibangunnya kilang baru maupun pengembangan kilang lama, juga menimbulkan masalah tersendiri karena minyak mentah yang diolah bukan berasal dari dalam negeri tapi diimpor dari negara lain. Jadi, katanya, dari sisi risiko bisnisnya hampir sama dengan mengimpor langsung bahan bakar minyak (BBM) yang sudah jadi. Kecuali jika dilihat dari penyerapan tenaga kerja dan derivasi produknya. Dengan demikian, tujuan pembangunan kilang untuk kemandirian dan ketahanan energi nasional sebetulnya masih relevan untuk dipertanyakan.

“Dengan begitu, muncul solusi bahwa Pertamina harus kuat di sektor tengah (midstream) migas. Dibuatlah organisasi yang memperkuat logistik, distribusi, pemasaran korporat, dan retail. Selain minyak, gas juga digarap dengan lebih seksama. Dibuatlah Holding Migas, yang menyatukan Perusahaan Gas Negara (PGN) dengan PT Pertagas (anak perusahaan Pertamina) agar memiliki infrastruktur pipa transmisi dan distribusi gas yang terintegrasi,” ujarnya.

Apakah dengan demikian Pertamina lantas dapat bangun (lagi) dan berlari? “Lihat saja indikasinya bulan-bulan ini. Kebutuhan energi di bulan Ramadhan biasanya lebih besar dibanding bulan-bulan lainnya. Jika trend kinerja Pertamina itu tidak turun, bahkan melesat naik, maka barangkali Pertamina tidak penting lagi memiliki Direktur Utama. Pertamina hanya perlu pekerja frontliners dan manajer yang ber-jibaku tiap hari, baik di hulu (orang-orang yang menjaga sumur di pelosok negeri, di hutan dan di tengah laut, agar mereka tetap produksi), maupun di hilir (orang-orang yang tidak kenal jeda menjaga kilang dan stok di depot-depot, SPBU, serta distribusi BBM agar tetap dapat melayani pembeli) di saat orang lain menikmati lebaran dan Cuti Bersama yang ditambah berhari-hari, yang tentunya menambah penggunaan energi dari tangan-tangan yang tanpa lelah mereka cari dan salurkan ke seluruh negeri,” paparnya. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*