AS Tambah Rig Baru, Harga Minyak Kembali Merosot

3700
AS Tambah Rig Baru, Harga Minyak Kembali Merosot
Foto : bisnis.com

JAKARTA (INDOPETRO)- Harga minyak mengalami penurunan dari pekan kenaikan agresif kegiatan pengeboran minyak Amerika Serikat guna menaikkan produksinya. Sementara Eropa dan Asia tengah mengantisipasi sanksi AS terhadap ekspor minyak besar-besaran Iran.

Tercatat pada Senin (14/5/2018), Brent LCOcl berada pada level US$ 76,65 per barel, turun 47 sen atau 0,6 persen dari pekan lalu. Demikian juga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), turun 29 sen atau 0,4 persen menjadi US$70,41 per barel.

Sebelumnya, pekan lalu Brent dan WTI telah mencapai nilai tertingginya sejak November 2014 dilevel US$ 78 dan US$78,91 barel, setelah pasar memperkirakan ekspor Iran akan turun signifikan ketika sanksi AS kembali diberlakukan tahun ini.

“Sekitar sejuta barel minyak per harinya seperti menghilang dari pasar global jika sanksi ini kembali berlaku,” kata Chief Market Strategist AxiTrader, Greg McKenna.

Namun, lanjutnya, masih jauh dari mungkin jika sanksi tersebut akan berlaku seperti yang diharapkan. Jerman menyatakan akan melindungi perusahaan mereka dari sanksi AS. Selain itu Total, perusahaan asal Prancis ini belum menarik diri dari lapangannya sementara Cina seperti siap untuk mengisi kekosongan yang disebabkan oleh sanksi AS.

Selain sanksi AS, naiknya harga minyak juga didorong oleh ketatnya pasar minyak akibat permintaan dari Asia dan pengurangan secara sukarela produksi minyak anggota OPEC dan Rusia.

“Kenaikan harga minyak (baru-baru ini) dipengaruhi beberapa faktor, termasuk kuatnya perkembangan ekonomi global, turunnya nilai tukar dolar, persetujuan OPEC dan Rusia untuk membatasi produksi, kolapsnya ekonomi Venezuela yang mengharuskan mengurangi produksi mereka, dan mengerucutnya permintaan minyak shale AS di pasar,” kata Chief Global Strategist J.P Morgan Asset Management, David Kelly.

Meski demikian pasar kini kembali berubah dengan bertambahnya pengeboran untuk produksi minyak baru di AS. Baru-baru ini, negara tersebut telah menambah 10 rig sejak Jumat (11/5/2018), sehingga kini bertambah menjadi 844 rig, jumlah terbanyak sejak Maret 2015. Hal ini disebutkan oleh Baker Hughes, dikutip oleh Reuters.

U.S. Commodity Futures Trading Commission (CFTC) mengatakan, bertambahnya rig baru ini kemudian menimbulkan keraguan para pengusaha minyak atas kembali naiknya harga minyak ke depannya. Di mana banyak pemegang modal yang kemudian mengurangi investasi pada minyak mentah AS, menjadi ke titik terendah dalam lima bulan ke belakang. (Gadih)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*