Pengamat : Kenaikan Batu bara dan BBM Picu Kerugian PLN

34900
Awas! Mafia Migas Intai Pengangkatan Dirut Pertamina
Foto : gatra.com

JAKARTA (INDOPETRO)-PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menangguk kerugian sebesar Rp 6,49 triliun pada kuartal I 2018. Kinerja keuangan PLN mengalami penurunan dibanding kuartal I 2017 yang berhasil meraup laba bersih Rp 510,17 miliar.

Mengutip laporan keuangan PLN untuk periode tiga bulan yang berakhir 31 Maret 2018 dan 2017, jumlah beban usaha PLN naik menjadi Rp 70,35 triliun dari Rp 60,63 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan beban usaha terutama dari biaya bahan bakar dan pelumas yang melonjak dari Rp 27,66 triliun di kuartal I 2017 menjadi Rp 33,52 triliun pada kuartal pertama tahun ini. Biaya pembelian tenaga listrik juga meningkat dari Rp 15,15 triliun menjadi Rp 18,14 triliun.

Pendapatan usaha PLN sebenarnya juga meningkat, namun tak mampu menutup kenaikan beban usaha. Penjualan tenaga listrik di 3 bulan pertama 2018 mencapai Rp 62,91 triliun, sementara di periode yang sama tahun lalu Rp 57,53 triliun. Pendapatan dari penyambungan pelanggan juga bertambah menjadi Rp 1,77 triliun dari sebelumnya Rp 1,619 triliun. Begitu juga pendapatan lain-lain sebesar Rp 387,65 miliar yang lebih baik dibanding Rp 326,49 miliar pada kuartal I 2017 lalu.

Untuk menekan kerugian PLN, Kementerian ESDM menerbitkan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 1410 K/30/MEM/2018 untuk merevisi Kepmen ESDM Nomor 1395 K/30/MEM/2018 yang menetapkan patokan harga batu bara untuk kelistrikan di dalam negeri sebesar USD 70 per ton.

Harga batu bara khusus untuk PLN sebesar USD 70 per ton berlaku mulai 12 Maret 2018, tidak berlaku surut. Menurut perhitungan kasar PLN, patokan harga batu bara ini menciptakan efisiensi sekitar Rp 14 triliun untuk tahun ini.

Menanggapi kerugian perusahaan setrom negara tersebut, Fahmy Radhi, ekonom senior Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta mengatakan faktor utama penyebab kerugian PLN adalah kenaikan harga batu bara dan BBM. Sebab hingga 12 Maret 2018, PLN harus membeli batu bara dengan harga pasar yang sempat menembus USD 100 per ton.

Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 1395K/30/MEM/2018 yang mengatur harga batu bara untuk kelistrikan di dalam negeri sebesar maksimal USD 70 per ton diberlakukan per 12 Maret 2018, tidak berlaku surut. Sementara 57% listrik PLN berasal dari pembangkit batu bara.

“Saya menduga kerugian itu lebih disebabkan karena pembelian batu bara. PLN masih beli dengan harga segitu, kerugian itu sudah pasti tidak bisa dihindari karena awalnya berlaku surut tapi dibatalkan,” katanya, Jumat (11/5/2018).

Selain batu bara, kata Fahmy, pembelian bahan bakar minyak (BBM) juga berpengaruh. Meski porsi penggunaan BBM dalam bauran energi listrik hanya 6%, tapi harga minyak mentah yang terus merangkak naik hingga kisaran USD 70 per barel tentu menambah beban PLN.

Fahmy menilai, PLN juga berada di posisi sulit. Sebagai BUMN, PLN harus menjaga agar tarif listrik untuk masyarakat tetap terjangkau. Tarif listrik tak boleh naik, sementara harga biaya bahan bakar meroket. “Kondisi ini menyulitkan PLN,” lanjutnya.

Kendati demikian, Fahmy optimistis keuangan PLN akan kembali hijau pada kuartal II 2018 karena penetapan kebijakan harga batu bara khusus kelistrikan sudah berjalan. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*