Dirjen EBTKE Resmikan Green Chiller, Pendingin Bebasis Hidrokarbon

25600
Dirjen EBTKE Resmikan Green Chiller, Pendingin Bebasis Hidrokarbon

SEMARANG (INDOPETRO)- Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rida Mulyana, meresmikan pemasangan dua green chiller hidrokarbon pada fasilitas gedung produksi PT Phapros, Tbk, Semarang. Phapros menjadi pelaku industri pertama yang menggunakan sistem pendingin hidrokarbon di Indonesia.

Teknologi green chiller merupakan sistem pendingin berbasis hidrokarbon. Teknologi ramah lingkungan ini dapat menghemat listrik hingga 30 persen. Kapasitas masing-masing unit sebesar 231,9 kilowatt (kW) dengan isi refrigeran hidrokarbon sebanyak 30 kg. diperkirakan Green Chiller ini dapat menghemat penggunaan listrik sampai dengan 394,311 kWh/tahun atau setara dengan Rp440 juta/tahun.

“Dengan penghematan bisa mencapai 440 juta per tahun, ini merupakan proyek yang sangat menguntungkan. Pengembalian biaya investasi selama 2,52 tahun, seharusnya ini bisa diterapkan oleh industri sejenis,” kata Rida, di Semarang, Jumat (4/5/2018).

Selain dapat menurunkan biaya operasional karena lebih efisien,menurut Rida, teknologi ini juga dapat bekerja dengan tekanan kerja 20% lebih rendah dibandingkan dengan refrigeran fluorocarbon. Diharapkan pemanfaat Green Chiller dapat mengurangi konsumsi energi antara 17-30% dibandingkin refrigeran fluorocarbon.

Rida juga menambahkan, penggunaan teknologi ini juga dapat mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 365 tCO2/tahun atau 7.121 tCO2 selama 20 tahun masa pakai.

Chiller hidrokarbon pertama mulai dipasang di pabrik Phapros pada akhir 2017, menyusul chiller kedua pada Januari 2018. Chiller tersebut digunakan untuk mendinginkan berbagai ruangan untuk produksi obat, penyimpanan dan pembiakan bakteri di gedung produksi Phapros.

Kementerian ESDM terus mendorong para pelaku industri agar dapat melaksanakan program konservasi dan efisiensi energi, sehingga komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebagaimana dideklarasikan dalam Paris Agreement dapat terwujud. (Gadih)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*