Kampanye Pilpres 2014, Jokowi Janji Besarkan Pertamina Lebihi Petronas

59100
Kampanye Pilpres 2014, Jokowi Janji Besarkan Pertamina Lebihi Petronas
Foto: bantennews.co.id

JAKARTA (INDOPETRO)- Saat menghadiri Pembukaan Konvensi dan Pameran Indonesian Petroleum Association (IPA) di Jakarta Conventions Center (JCC) pada 2 Mei 2018, Presiden Joko Widodo (Jokowi) geleng-geleng kepala terhadap eksplorasi minyak dan gas bumi (migas) PT Pertamina (Persero) yang dari tahun ke tahun produksi minyaknya terus menurun.

Penurunan produksi ini diakui oleh Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Resiko Pertamina Gigih Prakoso. Pasalnya, lapangan-lapangan migas milik Pertamina sudah mature di tengah-tengah kegiatan hulunya membutuhkan lapangan baru. Karenanya Pertamina pada 2018 sampai 2030 akan fokus memperbanyak kegiatan eksplorasi migas.

Menyikapi keprihatinan Presiden Jokowi, dalam keterangan persnya, Kamis (3/5/2018) Ketua Umum eSPeKaPe (Solidaritas Pensiunan Karyawan Pertamina) mengingatkan pada keprihatinan Pontjo Sutowo, putra Ibnu Sutowo, pendiri sekaligus Direktur Utama (Dirut) Pertamina yang pertama.

“Pontjo prihatin karena bisnis di Pertamina abaikan fokus dari kegiatan hulu migas. Bapaknya, Ibnu Sutowo sangat bangga atas keberhasilan membangun kilang LNG Arun di Aceh dan kilang LNG Badak di Kalimantan Timur, yang mengangkat derajat Pertamina sejajar dengan korporasi migas dunia,” tutur Binsar Effendi sembari mengingatkan bahwa
Ibnu Sutowo yang menentukan pola kerja sama dalam Production Sharing Contract (PSC) yang tersohor itu.

Binsar Effendi yang juga Ketua Dewan Penasehat Laskar Merah Putih (LMP) tidak juga melupakan janji kampanye Jokowi saat Pilpres 2014. “Presiden Jokowi berniat akan membesarkan Pertamina lebih besar dari Petronas asal Malaysia. Wajar jika melihat lifting minyak Pertamina belum pernah naik, Presiden Jokowi merasa ada sesuatu yang salah,” ujarnya.

Padahal, lanjutnya, diketahui bersama dalam pemerintahan yang melewati tiga tahun di Kementerian ESDM sudah hadir 2 menteri (Sudirman Said dan Ignasius Jonan) ditambah ada wakil menteri (Arcandra Tahar). Di Kementerian BUMN ada seorang menteri (Rini M Soemarno), serta di Pertamina ada 2 dirut (Dwi Sutjipto dan Elia Masa Manik). “Apa yang mereka kerjakan untuk eksplorasi minyak Pertamina tidak terus-menerus menurun? Padahal adanya 128 cekungan basin baru tersentuh eksplorasi 40-45 persen dan dengan cadangan minyaknya sekitar 3,3 milyar barel,” kata Binsar Effendi.

“Kenapa sudah tahu hitungan dua kali lebih banyak mengambil ketimbang menemukannya,” ujar Binsar Effendi.

“Jika negara tetangga reserve replacement ratio (RRR) nya bisa diatas 100 persen, justru kita masih berkutat pada RRR 50 persen,” katanya.

“Mumpung masih ada cadangan minyak setara 0,2 persen cadangan terbukti minyak dunia. Menempatkan orang menjadi Dirut Pertamina jangan lagi mendapatkan kucing dalam karung, akan semakin minim lagi eksplorasi minyak yang dicapai,” imbuh Binsar Effendi.

“Maka untuk menjawab gelengan kepala Presiden Jokowi, ijinkan Presiden Jokowi memilih Iwan Ratman untuk menjadi Dirut Pertamina definitif. Mudah-mudahan saja dengan Pertamina dipercayakan kepada Iwan Ratman memimpinnya, eksplorasi minyak Pertamina bisa digenjot untuk menghasilkan produksi minyak yang maksimal,” tandas Binsar Effendi. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*