Pengamat Sebut Rekayasa Pembicaraan Rini-Sofyan Perburuk Iklim Investasi

21100
Awas! Mafia Migas Intai Pengangkatan Dirut Pertamina
Foto : gatra.com

JAKARTA (INDOPETRO)- Viral bocornya pembicaraan telepon antara menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno dengan Direktur Utama (Dirut) PT PLN (Persero) Sofyan Basir sangat menghebohkan, baik di medsos dan non maya.

Rekaman pembicaraan setahun lalu, yang konon diedit, mengesankan ada pembicaraan bagi-bagi fee. Terlebih di pembicaaraan tersebut juga menyebut Ari Soemarno, kakak kandung Rini Soemarno.

Menurut Sekretaris Jenderal Kementerian BUMN, rekaman itu direkayasa, yang mengesankan adanya bagi-bagi fee proyek. “Padahal, pembicaraan itu merupakan laporan Sofyan Basir kepada atasannya Rini Soemarno terkait progres perundingan pembagian saham Proyek LNG Receiving Terminal di Serang Banten, yang diinisiasi PT Bumi Sarana Migas (BSM),” kata Fahmy Radhi, pengamat ekonomi Energi UGM pada indopetro, Senin (30/4/2018).

Menurut mantan anggota Tim Anti Mafia Migas ini, sangat diragukan bahwa antara Rini dan Sofyan terlibat bagi-bagi fee proyek. “Berdasarkan track record keduanya sangat profesional dan tidak pernah terindikasi tindak pidana suap-menyuap. Sebagai profesional, keduanya juga sangat memegang teguh prinsip-prinsip good governance,” tandasnya.

Rini, kata Fahmy, sebelumnya profesional handal, yang menyelamatkan Astra International dari kebangkrutan. Sedangkan Sofyan Basir, banker bertangan dingin, yang ikut membesarkan Bank Bukopin dan Bank BRI. Dengan track record semacam itu, tambah Fahmy, amat mustahil keduanya melakukan suap menyuap fee proyek.

“Rekaman itu sengaja direkayasa seolah bagi-bagi fee. Padahal yang benar adalah tawar menawar prosentase saham PT BSM untuk PLN dan Pertamina sebagai risk taker, pembeli gas dihasilkan PT BSM,” katanya.

Dia juga mengungkapkan terdapat indikasi bahwa rekaman itu hasil rekayasa dengan tujuan menyerang pembantu Presiden untuk menjatuhkan Jokowi sehingga ada justifikasi Jokowi diganti pada 2019.

Selain dampak politik itu, rekayasa rekaman itu berpotensi memperburuk iklim investasi di indonesia. “Invenstor akan mengurungkan niatnya untuk berinvestasi di Indonesia lantaran praktik pembagian fee masih marak di Indonesia. Kaburnya para Investor itu tidak hanya akan menghambat pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pembukaan lapangan pekerjaan di Indonesia,” tandas Fahmy.

Oleh karena itu, lanjutnya, siapa pun perekayasa dan apa pun tujuannya, harus berfikir ulang kalau rekayasa rekaman itu berpotensi mencederai pembangunan ekonomi, utamanya memperburuk iklim investasi di Indonesia. “Jangan sampai rekayasa yang bertujuan menjatuhkan Presiden, sekaligus memporak-porandakan perekonomian Indonesia. Ujung-ujungnya akan mencederai kesejahteraan rakyat Indonesia,” tegasnya. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*