Menteri Jonan Anggap Cost Recovery Sangat Ketinggalan Zaman

22900
Menteri Jonan Anggap Cost Recovery Sangat Ketinggalan Zaman
Foto : Istimewa

JAKARTA (INDOPETRO)- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) menilai kebijakan mengganti skema kontrak bagi hasil Cost Recovery dengan skema Gross Split lantaran sistem Cost Recovery tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman.

“Kenapa akhirnya pemerintah menerapkan sistem Gross Split? Karena kultur Cost Recovery itu udah sangat ketinggalan,” kata Jonan, Jumat (27/4/2018) di Jakarta.

Melalui pergeseran skema ini, Jonan menegaskan, akan membawa perubahan efisensi atas pengelolaan minyak dan gas di Indonesia. “Kultur Gross Split yang mendorong efisiensi ini harus jalan. Tidak bisa tidak,” tegas Jonan.

Apabila hal ini tidak dijalankan, maka cepat atau lambat sebuah perusahaan kelak mengalami kemunduran. “Tidak ada satu organisasi pun di dunia yang bertahan kalau tidak efisien. Saya tidak pernah melihat,” jelas Jonan.

Jonan mendorong transformasi kultur perusahaan migas seyogyanya dibangun dari bagian hulu terlebih dahulu, baru kemudian dilanjutkan di sisi hilir. “Apabila ini diterapkan, bakal menjadi lompatan besar bagi perusaahan hulu migas,” tandas Jonan.

Sebagai catatan, skema Cost Recovery telah diterapkan dalam dunia bisnis hulu migas sejak tahun 1960-an. Namun Cost Recovery dinilai membebani uang rakyat melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Bahkan, pada 2015 dan 2016, Cost Recovery lebih besar dari penerimaan migas bagian pemerintah. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*