Tetap Fokus pada Perjanjian Nuklir AS-Iran, Meski Harga Minyak Terus Naik di Asia

16000
Trump Cabut dari Kesepakatan Nuklir Iran
Foto: dailyexpress.com

SINGAPURA (INDOPETRO)- Harga minyak mentah terus menguat di pasar Asia, meskipun adanya laporan atas stok Amerika Serikat terkait isu kerja sama nuklir AS-Iran. Harga Brent sempat naik 40 sen atau sekitar 0,54 persen di posisi US$ 74,4 per barel, Rabu (25/4).

Menurut data Energy Information Administration (EIA) Amerika Serikat, menunjukkan bahwa minyak mentah AS telah naik 2,17 juta barel menjadi 429.737 juta barel untuk pekan lalu.

Analis mengatakan, “kombinasi tingginya impor dan rendahnya aktivitas refinery menjadi alasan utama menguatnya harga minyak pekan lalu,” seperti dikutip oleh Platts. Tercatat,impor minyak mentah meningkat dari 539 ribu barel/hari menjadi 8,469 juta barel/hari. Sementara laju rata-rata  kegiatan refinery 90,8 persen, turun 1,6 persen.

“Harga minyak mentah cepat naik meskipun ada penambahan stok tak terduga stok minyak AS,” kata ekonom OCBC Bank, Barnabas Gan, melalui penyataannya, Kamis (26/4/2018). Meskipun, lanjut Gan, level inventaris secara keseluruhan masih sedikit di bawah rata-rata lima tahun ke belakang.

Data EIA pun menyebutkan penurunan inventaris sulingan AS dan tingginya ekspor minyak AS secara tidak langsung membantu naiknya harga minyak. Ekspor minyak AS naik 582 ribu/hari menjadi 2,331 juta barel/hari. Sedangkan stok penyulingan turun 2,611 juta barel/hari menjadi 122,729 barel.

Namun demikian, pasar masih fokus pada posisi pemerintah AS pada perjanjian nuklir Iran, di mana akan segera diputuskan pada 12 Mei mendatang. AS tengah bersiap meninggalkan perjanjian tersebut jika tidak dapat mencapai kesepakatan dengan Eropa untuk menguatkan persyaratan. Hal ini disampaikan oleh ketua negosiator AS, Rabu lalu.

Direktur Perencanaan Kebijakan AS, Brian Hook, mengatakan AS dan sekutu Eropa dapat mengubah isi perjanjian nantinya, atau disebut Joint Comprehensive Plan of Action. Presiden AS Donald Trump kini masih mempertimbangkan untuk meneruskan sanksi yang membatasi ekspor Iran tidak lebih dari 1 jutat barel/hari. Di mana deadline penundaan sanksi adalah 12 Mei. Sejak sanksi dibatalkan Presiden Barack Obama pada Januari 2016, Iran sudah mengekspor sebanyak 2,2-2,3 juta barel/hari.

Selasa lalu, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Prancis Emmanuel Macron telah memberi sinyal kemungkinan adanya pemikiran yang sejalan untuk melanggengkan perjanjian nuklir Iran, meskipun Trump tidak berjanji dan mungkin saja sanksi diberlakukan kembali. (Gadih)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*