Wamen ESDM : Pelaku EBT Gunakan Data Sebelum Berbisnis

20100
Pengamat Sayangkan Sikap Wamen ESDM Tegur Panitia IPA Convex 2018
Foto : merdeka.com

JAKARTA (INDOPETRO)- Pemerintah memiliki banyak strategi dalam menarik minat berbisnis Energi Baru Terbarukan (EBT). Namun sebelum melangkah, pihak Kementerian ESDM berharap agar menggunakan data sebagai pijakan berbisnis. “Para pelaku, mulai saat ini mohon kiranya harus hati-hati. Data ini akan dipakai dimana-dimana, kita harus hati-hati dengan itu,” kata Wakil Menteri (Wamen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar, Rabu (25/4/2018) di Jakarta.

Arcandra mengemukakan, kerap kali masyarakat salah persepsi dalam memaknai pemberitaan terkait perbedaan potensi (resource) dan cadangan (reserve). Padahal, cadangan yang bisa dimanfaatkan berbisnis dalam EBT adalah proven developed reserve. Sementera, terkait potensi masih lebih jauh memerlukan kajian lanjutan.

Panas bumi, misalnya. Selama ini, imbuh Arcandra, data panas bumi di Indonesia yang beredar luas menyentuh total sebesar 29 GW. Faktanya, data itu hanya kisaran potensi. Kesalahan data justru tidak memberikan pendidikan yang baik kepada masyarakat. “(Katanya) cadangan geothermal itu sekitar 29 GW, tapi itu bukan. Itu tidak mengedukasi. Reserve dengan resource itu beda,” katanya.

Arcandra minta para pebisnis EBT menggali lebih jauh subsektor ini selain panas bumi maupun sampah. Konversi energi termal lautan atau Ocean Thermal Energy Convertion (OTEC) bisa digali lebih dalam untuk dijadikan lahan bisnis EBT. “Indonesia adalah salah satu punya potensi OTEC yang besar dan terbaik,” ucapnya memberi solusi.

Teknologi juga urusan lain yang patut dicermati selain data. Arcandra mengupas tuntas bagaimana peran teknologi dalam mengembangkan bisnis EBT yang bergantung pada kearifan lokal (local wisdom). “Teknologi apa yang terbaik yang bisa diaplikasikan sehingga hasilnya efisien dan efektif,” jelas Arcandra. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*