eSPeKaPe: Pemilihan Dirut Pertamina Jangan Berdasar “Like” dan “Dislike”

37900
eSPeKaPe Surati Presiden, Usulkan Iwan Dirut Pertamina
Foto: istimewa

JAKARTA (INDOPETRO)- Solidaritas Pensiunan Karyawan Pertamina (eSPeKaPe) menyampaikan kriteria kompetensi super untuk calon Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero). Apa saja kriterianya?

“Pertama, calon berpendidikan S3 atau doctor di bidang perminyakan,” kata Ketua Umum eSPeKaPe Binsar Effendi Hutabarat pada sejumlah media, Selasa (24/4/2018) di Jakarta.

Kedua, lanjutnya, calon Dirut Pertamina harus berpengalaman sebagai profesional migas. “Minimal lima tahun,” tandasnya. Ketiga, lanjutnya, seorang calon harus punya pengalaman bekerja di perusahaan migas dari bisnis hulu sampai bisnis hilir agar mengerti secara komprehensif terhadap bisnis Pertamina.

Keempat, tambah Binsar, termasuk pengalaman kerja di perusahaan minyak nasional dan perusahaan minyak luar negeri. “Kriteria calon Dirut Pertamina yang berjiwa nasionalis, profesional murni, punya leadership kuat, serta sebagai motivator bagi setiap stakeholders Pertamina, ini juga penting agar punya integritas dan mampu mengemban amanat Pasal 33 ayat 2 dan 3 UUD 1945,” tegas Binsar.

Kriteria yang keenam atau terakhir, ungkap Binsar, “Kemampuan calon Dirut Pertamina telah teruji dan terukur. Ini dibuktikan dengan sertifikat-sertifikat profesi dan adanya dukungan penghargaan kerja pada perusahaan-perusahaan tersebut,” tandas Binsar, seraya meyakinkan bukan saja Pertamina terselamatkan tapi juga optimis akan menjadi Top Ten National Oil Companies (NOC) di dunia.

Lebih jauh Binsar juga menyayangkan bongkar pasang Dirut Pertamina. “Pertamina perlu diselamatkan dari kekeliruan kebijakan yang diterapkan oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini M Soemarno,” ujarnya.

Dia pun menyebut kekeliruan itu bersumber dari penunjukan jabatan Dirut Pertamina hanya dilandasi oleh like and dislike.

Menurut Binsar, yang Ketua Umum Komunitas Keluarga Besar Angkatan 1966 (KKB ’66) menunjuk Dwi Sutjipto pengganti Karen Agustiawan yang sebelumnya menjabat Direktur Hulu Pertamina, hanya karena Dwi Sutjipto berhasil melakukan privatisasi semen.

“Sedangkan menunjuk Elia Masa Manik untuk menggantikan Dwi Sutjipto selain berhasil menyehatkan bisnis PT Elnusa Tbk anak perusahaan Pertamina, juga beralasan karena Elia M Manik berhasil melakukan holding perkebunan. Padahal urusan bisnis migas yang strategis dan kompleks itu tidak bisa diurus oleh profesional yang bukan ahlinya, seperti ahli semen maupun ahli perkebunan,” tuturnya.

Adapun sumbang saran yang akan disampaikan kepada Presiden Jokowi yang atasannya Menteri BUMN Rini M Soemarno adalah Pertamina harus menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM); melaksanakan program satu harga BBM; target laba Pertamina minimal US$ 4 miliar setara Rp 56 triliun pertahun dengan menitikberatkan pada 70 persen laba di bisnis hulu migas.

Proyek kilang refinery baru dan up grading refinery lama yang harus berjalan untuk meningkatkan kapasitas produksi migas nasional. “Tentunya dengan komitmen kuat terhadap pemberantasan mafia migas ke akar-akarnya, kemudian meningkatkan kesejahteraan pekerja berdasarkan merit system serta kesejahteraan dan peningkatan pelayanan kesehatan pensiunan Pertamina sebagai stakeholder yang telah berkontribusi sejak merintis, membangun dan membesarkan Pertamina,” ujar Binsar. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*