Pelengseran Dirut Pertamina Kuasa Pemerintah

13200
Gugatan PT AKT Dikabulkan, Hakim PTUN Jakarta Diadukan ke KY dan MA
Foto: inilah.com

JAKARTA (INDOPETRO)- Pencopotan Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina mendapat respon dari berbagai kalangan. Direktur Eksekutif Center of Energy and Recources (CERI) Yusri Usman, menganggap pergantian Direksi Pertamina merupakan hak pemerintah yang dikuasakan kepada Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

“Lembaga negara ini yang bertanggungjawab atas maju dan mundurnya kinerja Pertamina dalam menjalankan proses bisnisnya,” kata Yusri pada wartawan, Jumat (20/4/2018) di Jakarta. Salah satu tugasnya (selain usaha bisnis) adalah untuk memastikan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG) serta gas tersedia dengan baik di seluruh pelosok Tanah Air.

Menurut Yusri, mengingat kerugian yang dialami Pertamina selama tahun 201 (yang mencapai sekitar Rp 24 triliun) mungkin Presiden berpikir harus mengganti nahkoda baru yang lebih mumpuni dapat mengendalikan Pertamina. Penggantian ini dilakukan agar Pertamina tidak semakin merugi ditengah posisi sulit pemerintah tidak mengoreksi harga BBM subsidi Solar dan Premium penugasan khusus.

Sementara itu, Fahmy Radhi, pengamat ekonomi-energi dari UGM, Yogyakarta, menyatakan bahwa Elia Masa pantas diganti. Karena selain mengeluh melulu, cenderung membangkang dalam menjalankan BBM penugasan. “Manuver-manuver Elia Masa, yaitu kelangkaan BBM dan Penaikan harga Pertalite, cukup membahayakan yang berpotensi menimbulkan keresahan dan kegaduhan serta memicu inflasi,” kata Fahmy.

Terakhir, lanjut Fahmy, Elia seolah cuci-tangan terhadap tragedi kebocoran pipa di Teluk Balik Papan, yang sudah membawa korban. “Mestinya, Elia dengan jantan mengundurkan diri sebelum dicopot,” tegas Fahmy.

Siapa penggantinya? “Sebaiknya Dirut definitif dari salah seorang direksi sebelumnya, bukan dari luar. Pertimbangannya, Dirut itu langsung berpacu dalam menjalankan tugas sebagai direktur. Tidak butuh waktu lagi untuk belajar sebagai Dirut Pertamina,” paparnya. Selain untuk menjaga continuities.

Untuk itu, kata Fahmy, Nicke yang paling pas dan pantas dipertimbangkan sebagai Dirut Pertamina definitif.

“Nicke punya pengalaman sebagai eksekutif handal sebelumnya, baik di Perusahaan Swata Asing, maupun PLN, yang akan sangat mendukung dalam menahkodai Pertamina,” usul Fahmy.

Meski baru beberapa bulan di Pertamina, tambahnya, Nicke lah yang berhasil mewujudkan Holding Migas, yang sebelumnya terkatung-katung

“Penunjukan Nicke sebagai Plt. Dirut merupakan indikasi bahwa pemegang saham merestuinya sebagai Dirut Pertamina definitif. Tinggal selangkah lagi bagi Nicke untuk menjadi Direktur Utama Pertamina,” ujar Fahmy. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*