Beberapa Kejanggalan Tercecernya Minyak di Teluk Balikpapan

17300
Mempertanyakan PGN sebagai Sub Holding Gas dan Bukan Pertagas
Foto : offshoreindonesia.com

JAKARTA (INDOPETRO)- Ada beberapa unsur kejanggalan mengiringi kasus tercecernya minyak di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur. Apa saja kejanggalannya?

“Tumpahnya minyak sejak 30 Maret 2018 unit kontrol kilang Balikpapan sudah menunjukan bahwa CDU IV hanya sirkulasi. Artinya memang feed dari pipa bawah laut Lawe-Lawe ke Kilang Balikpapan sudah terputus, sehingga kondisi kilang Balikpapan hanya beroperasi 20 persen saja,” kata Direktur Eksekutif Center of Energy and Recources Indonesia (CERI) Yusri Usman, Jumat (20/4/2018) di Jakarta. Selain itu, di kompleks tangki Lawe-Lawe terdapat juga unit ruang kontrol untuk memonitor volume minyak mentah yang disupplai dan diterima di kilang.

“Kalau melihat dari alat kontrol sistem ini, seharusnya Pertamina sejak 31 Maret
2018 sudah menemukan sumber masalah tercecernya minyak di Teluk Balikpapan dari bocornya pipa bawah laut di Teluk Balikpapan, bukan baru hari Senin sore, 2 April 2018 baru diketahui dan pada hari Selasa Pertamina melakukan sight sonar scan,” papar Yusri.

Dia meminta Pertamina fokus pada penanggulangan dampak terhadap kerusakan lingkungan dan sosial serta tidak menunggu hasil investigasi pihak kepolisian mengenai penyebab patahnya pipa hingga bergeser 100 meter. Lagi pula ujarnya, terlalu dini untuk meyimpulkan bahwa patahnya kilang akibat aktifitas ekternal dan mencurigai jangkar kapal Ever Judge sebagai penyebab.

“Tidak menutup kemungkinan patahnya pipa akibat salah sistem sambungan dan kualitas pipa tidak memenuhi syarat, gerusan sedimen di sekitar pipa akibat arus deras di sekitar teluk Balikpapan, atau bisa juga karena ada pencurian minyak melalui pipa seperti yang pernah terjadi di Lawe-Lawe pada 2005,” katanya.

Yusri tidak sepakat dengan teori jangkar kapal Ever Judge menjadi penyebab patahnya pipa. Karena syahbandar pelabuhan sudah mempunyai peta jalur pipa di Teluk Balikpapan selalu memandu setiap kapal ketika akan merapat di sekitarnya, dan area laut di depan kilang Pertamina Balikpapan merupakan area terlarang bagi kapal-kapal yang akan lego jangkar kalau tidak atas persetujuan Pertamina dan Syahbandar dari Perhubungan Laut.

Aneh dan lucu, kata Yusri, Menko Kemaritiman mengeluarkan pernyataan pada tanggal 6 April 2018 bahwa ‘Pertamina tidak salah’. Tentu ini bisa jadi preseden buruk dibaca publik atas sikap saling klaim dari pejabat Pemerintah dari data yang tak jelas dan terbatas. “Bisa jadi ini ancaman halus dialamatkan kepada tim investigasi untuk menyelidiki hipotesa mana yang mendekati kebenaran dan mendapat kesimpulan dari data-data hasil audit forensik yang harus dilakukan. Bahkan bisa jadi tidak tertutup kemungkinan di kemudian hari Pertamina digugat oleh pemilik kapal yang telah dituduhkan tanpa bukti kuat itu,” ujar dia.

Yusri sendiri berpendapat sebaiknya Pertamina melakukan evaluasi internal agar jabatan strategis di korporasi diduduki oleh orang yang kompeten dan memiliki sense of crisis. Adapun dia melihat jejak rekam GM Pertamina Balikpapan sekarang, Togar MP merupakan sosok yang tidak tepat, karena sebelumya pada saat Turn Around (overhaul/shutdown) Pertamina Balongan melampaui batas waktu yang wajar dan menyebabkan kerugian bagi perusahaan.

“Lalu ketika Togar menjabat Manager Turn Around Pertamina Pusat, dia telah mengirimkan Pensiunan Pertamina untuk dipekerjakan di Pertamina Dumai tanpa memeriksa terlebih dahulu kesehatan di RSPP, akibatnya saat itu ada yang meninggal dunia,” kata Yusri. Selain itu, dia juga menyesalkan lambatnya reaksi Direktur Pertamina terhadap bencana yang ada.

“Sampai dengan 7 hari setelah pencemaran berat yang menimbulkan korban nyawa manusia serta kebakaran hebat di laut, ternyata baik Direktur Pengolahan, Toharso maupun Deputi Direktur Operasi Pengolahan, Budi Santosa Syarif tidak juga turun ke Balikpapan,” sesalnya. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*