PGN Persiapkan RKAP Paska Akuisisi Pertagas

11300
Pendapatan Kuartal I/2018 PGN Capai Rp 10,83 Triliun

JAKARTA (INDOPETRO)- PT PGN sedang menyiapkan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) setelah mengakuisisi PT Pertagas (anak usaha Pertamina). Kendati membutuhkan waktu tetapi pihak PGN optimis bakal segera dituntaskan sesegera mungkin.

“Kami menargetkan revisi RKAP yang baru bisa rampung 3 bulan—4 bulan ke depan,” kata Direktur Komersial PGN Danny Praditya, Selasa (17/4/2018) di Jakarta. Proses akuisisi Pertagas bisa dilakukan dengan berbagai skema, seperti dengan penerbitan saham baru atau rights issue, pinjaman perbankan, dan asset swap. “Kami akan tentukan skema pendanaan akuisisi setelah ada valuasi Pertagas,” ujarnya.

Pada 2018, RKAP PGN (sebelum integrasi dengan Pertagas) belanja modalnya telah dianggarkan sebesar US$400 juta.

Danny menjelaskan, total belanja modal yang dianggarkan pada tahun ini belum termasuk persiapan akuisisi Pertagas.

Diketahui, pada 26 April 2018, PGN bakal melakukan rapat umum pemegang saham (RUPS) luar biasa dengan agenda mengganti anggaran dasar dan struktur direksi serta komisaris.

Selain itu, dia mengakui, biaya akuisisi Pertagas akan cukup besar nilainya. Meskipun, ukuran perusahaan Pertagas masih di bawah PGN.

Sebelumnya, valuasi saham PGN milik pemerintah sebanyak 13,8 miliar atau 56,97% dari total saham yang dialihkan ke Pertamina senilai Rp 38 triliun.

Dalam jangka pendek, menurut Danny, PGN akan meningkatkan kerja sama dengan Pertagas, seperti mengintegrasikan beberapa proyek. “Jadi kami gabung, artinya ada redundansi, misalnya kalau ada yang rusak, ada yang satunya,” paparnya.

Adapun terkait proyeksi kinerja PGN pada 2018, kata Danny, kemungkinan tidak jauh berbeda dengan pencapaian perusahaan pada tahun lalu. Hanya saja, pada kuartal I-2018, kinerja PGN kemungkinan akan lebih baik dengan adanya beberapa pembangkit batubara yang rusak yang bisa diganti dengan gas.

Sementara itu, Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengatakan, pihaknya memutuskan skema integrasi PGN dengan Pertagaa dengan akuisisi karena prosesnya bisa lebih cepat dibandingkan dengan merger. Pada skema akuisisi, prosesnya bisa rampung paling cepat 3 bulan. “Kalau, merger bisa butuh waktu lama hingga 1 tahun lebih,” ujarnya.

Dia juga mengutarakan, selain tengah memproses subholding gas, pihaknya juga tengah menyiapkan struktur subholding hulu migas. Secara struktur, subholding hulu migas sudah ada, tetapi masih harus ditata secara struktur.

“Kan ada banyak hulu migas dari Pertamina EP sampai Pertamina Hulu Energi, nanti kami akan tentukan siapa yang akan menjadi subholding. Lalu, saat ini Saka Energi masih berada di PGN,” katanya.

Proses akuisisi PT Pertamina Gas (Pertagas) oleh PT Perusahaan Gas Negara Tbk. ditargetkan bisa rampung dalam 4 bulan sejak induk usaha BUMN minyak dan gas bumi resmi berdiri pada 11 April 2018. PGN pun bakal menyiapkan skema pendanaan untuk akuisisi setelah valuasi Pertagas ditentukan. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*