Perizinan Masih Jadi Tantangan Industri Hulu Migas

33900
Mustahil Pemerintah Tidak Hambat Investasi
Foto : istimewa

JAKARTA (INDOPETRO)- Masalah perizinan dan waktu atau masa proyek hulu minyak dan gas bumi (migas) dimulai menjadi salah satu tantangan perusahaan yang bergerak dalam industri padat modal, resiko dan teknologi tinggi ini.

“Kita sadar bahwa pemerintah telah berusaha untuk menyederhanakan perizinan tapi kenyataan di lapangan berbeda dengan yang regulasinya,” kata Direktur Keuangan PT Elnusa Tbk Budi Rahardjo, Senin (16/4/2018) di Jakarta. Tantangan lainnya adalah blok-blok migas yang sudah habis masa kontraknya yang diserahkan kembali ke pemerintah.

“Padahal kontrak yang kita tandatangani dengan perusahaan operator belum habis. Tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah diserahkan ke pemerintah,” katanya. Contohnya blok Mahakam saat masih dikelola Total.

Selain mahakam, juga Vico yang akan berakhir kontraknya dan diserahkan pada pemerintah. “Kita tidak bisa complain,” katanya.

Budi mengutarakan, Elnusa dapat bertahan karena masih ada bisnis downstream. Kontribusi downstream, lanjutnya, sangat membantu perusahaan. Pada tahun 2015, kontribusinya sekitar 33%. Pada tahun 2016 naik menjadi 44%. Sedang pada tahun 2017 naik lagi menjadi 50%.

Sedangkan kontribusi di sektor upstream hanya 4%. Oleh karena itu, lanjut Budi, pihak perusahaan melakukan berbagai terobosan. “Kita ada paket-paket total solusi,” kata Budi sembari menambahkan bahwa Elnusa saat ini memiliki satu kapal seismic yang dipergunakan di hulu migas.

Dia juga mengutarakan bahwa perusahaan telah mengantongi kontrak Rp 4 triliun sejak awal 2018 hingga kini. Dari jumlah itu, sebanyak Rp 1,8 triliun merupakan kontrak baru dan Rp 2,2 triliun merupakan kontrak carry over.

“Total nilai kontrak tahun ini ya mudah-mudahan bisa jadi Rp 5 triliun sampai Rp 6 triliun,” katanya.

Nilai kontrak baru sebesar Rp 1,8 triliun yang dikantongi Elnusa sebelum semester I 2018 menorehkan pencapaian positif dibanding periode yang sama tahun 2017. Semester I-2017, Elnusa hanya mengantongi kontrak Rp 1 triliun.

Nilai kontrak baru sebesar Rp 1,8 triliun yang dikantongi Elnusa sebelum semester I 2018 menorehkan pencapaian positif dibanding periode yang sama tahun 2017. Semester I-2017, ELSA hanya mengantongi kontrak Rp 1 triliun. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*