Pensiunan Pertamina Tuntut Mundur Direktur Pengolahan Pertamina

26400
eSPeKaPe Surati Presiden, Usulkan Iwan Dirut Pertamina
Foto: istimewa

JAKARTA (INDOPETRO)- Lambatnya Pertamina RU V Kilang Balikpapan memastikan sumber kebocoran minyak di Teluk Balikpapan karena keterangan beberapa pejabat Pertamina di Balikpapan dan Jakarta ada ketidaksinkronan, yang berakibat menjadi melebarnya sebaran dampak minyak mentah di perairan Teluk Balikpapan. Bersyukur setelah turunnya tim gugus pemulihan dari lintas kementerian bekerja sama dengan Pemda Balikpapan serta masyarakat di sekitarnya, perlahan kondisi lingkungan berangsur angsur dapat dipulihkan .

“Atas keterlambatan pencegahan yang memperluas sembaran dampak dari polusi minyak seluas sekitar 12.987 hektar berdasarkan analisis citra satelit LAPAN pada 1 April 2018 lalu, yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan baru dirilis pada 5 April 2018. Tentu berakibat buruk bagi kehidupan manusia dan biota serta hutan mangrove di sekitar Teluk Balikpapan hingga melebar sampai perairan Selat Sulawesi, bahkan bisa jadi sampai disekitar perairan Laut Jawa,” tutur Ketua Umum eSPeKaPe (Solidaritas Pensiunan Karyawan Pertamina) Binsar Effendi Hutabarat dalam keterangan persnya di Jakarta (9/4/2018).

Padahal menurut Binsar Effendi yang Ketua Dewan Penasehat Laskar Merah Putih (LMP), di unit kontrol kilang Balikpapan sejak 30 Maret 2018 sudah menunjukan bahwa CDU IV sudah stop total, hanya sirkulasi. Artinya memang feed dari pipa bawah laut dari Lawe-Lawe menuju ke Kilang Balikpapan ‘sudah terputus’, sehingga kondisi kilang Balikpapan hanya bisa beroperasi 20 % saja.

Kalau melihat alat kontrol sistem tersebut, sebut Binsar, seharusnya Pertamina sejak 31 Maret 2018 sudah menemukan sumber masalah tercecernya minyak di Teluk Balikpapan dari bocornya pipa dibawah lautnya. “Tetapi kebocoran baru diketahui pada 2 April 2018 sore dan pada 3 April pagi harinya, Pertamina melakukan sight sonar scan untuk dapat memastikan lokasi pipa yang patah pada kedalaman 22 sampai 26 meter di dasar laut dan pipa yang patah telah terseret 100 meter dari tempat asalnya”, ungkapnya.

“Yang sangat disayangkan justru sikap para pimpinan Direktorat Pengolahan yang tidak mau mengakui, dan terkesan melepaskan tanggungjawabnya. Sehingga pencemaran sangat berat yang bisa disebut terjadinya kejadian luar biasa, sudah barang tentu sangat mencoreng nama baik Pertamina. Apalagi setelah hal tersebut mendapat sorotan sangat tajam oleh pers international,” tegas Binsar. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*