Pesantren Terpadu Al-Yasini Pasuruan Kembangkan Biogas

7100
Pesantren Terpadu Al-Yasini Pasuruan Kembangkan Biogas
Foto: infonawacita.com

PASURUAN (INDOPETRO)- Pondok Pesantren tidak hanya menjadi wahana belajar ilmu agama. Lembaga ini pun memiliki kepedulian terhadap pengembangan energi. Bukan energi fosil tapi Energi Baru Terbarukan (EBT). Bahkan instalasinya diresmikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan.

Adalah Pondok Pesantren Terpadu Al-Yasini, Pasuruan, telah mengembangkan EBT yang berasal dari kotoran manusia diolah menjadi biogas. Instalasinya didesain dengan kapasitas digester biogas sebesar 24 meter kubik yang mampu menghasilkan gas sebanyak 81 meter kubik per bulan atau setara dengan 12 tabung LPG 3 kg per bulan. Selain untuk memasak, biogas juga dapat digunakan untuk penerangan.

Pembangunan instalasi biogas komunal meliputi 50 unit WC, digester biogas dengan kapasitas 2×12 meter kubik tipe fixed dome beton, instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dengan kapasitas 180 meter kubik, 2 unit lampu biogas dan 4 unit kompor biogas.

Biaya pembangunan instalasi biogas komunal bersumber dari APBN 2017 dan mulai beroperasi sejak Oktober tahun 2017. “APBN itu diutamakan untuk pembangunan yang berdampak langsung pada masyarakat. Harus bermanfaat langsung bagi masyarakat,” kata Jonan, saat meresmikan instalasi biogas di Pondok Pesantren Terpadu Al-Yasini, pada Sabtu (7/4/2018) di Desa Areng-areng, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan Jawa Timur.

Manfaat dari program biogas komunal ini antara lain menghemat biaya pengeluaran memasak, mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan impor LPG, serta mengurangi emisi gas rumah kaca.

Untuk tahap awal, pemanfaatan biogas komunal dapat mengurangi pemakaian LPG 3 kg per bulan sebanyak 3 tabung, hingga 12 tabung pada kondisi optimal. Sehingga dapat mengemat pengeluaran bulanan mulai dari Rp. 75.000 hingga Rp. 300.000.

Selain penambahan pembangunan WC, juga dibangun instalasi pengolahan air limbah yang dapat meningkatkan kualitas pengelolaan air limbah di lingkungan pesantren.

“Adanya penambahanan 50 WC mampu mengurangi waktu antri para santri sehingga santri bisa lebih tepat waktu datang ke ruang belajar. Untuk memasak juga jadi lebih hemat karena penggunaan LPG dapat kami kurangi. Selain itu, waktu antri memasak pun juga jadi lebih cepat karena ada penambahan jumlah kompor,” ungkap Ketua Yayasan Ponpes Terpadu Al-Yasini, Zainudin.

Menteri Jonan juga menyampaikan pembangunan biogas komunal merupakan salah satu upaya pemerintah meningkatkan akses energi kepada masyarakat dan mendorong pemanfaatan energi dari sumber daya yang berbasiskan potensi energi terbarukan setempat. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*