SP SKK Migas Siap Atasi Tumpahan Minyak Pantai Balikpapan

13300
Capaian Hulu Migas Semester I/2018: Eksplorasi Masih Harus Digenjot
Foto : eksplorasi.id

JAKARTA (INDOPETRO)- Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) selalu siap membantu pemerintah, tidak hanya dalam menemukan cadangan migas nasional tetapi juga bantuan-bantuan insidentil yang sifatnya mendesak. Hal tersebut dapat dilihat dari kesiapan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS) yang berada di Tier 1 seperti Chevron Indonesia Company dan Pertamina Hulu Mahakam (dulu Total Indonesie) dalam membantu mengatasi pencemaran pantai Balikpapan akibat kebocoran pipa bawah laut RU V PT. Pertamina.

Menurut Dedi Suryadi, Ketua Umum Serikat Pekerja (SP) Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), sesuai dengan protokol yang ada, Kontraktor KKS telah berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah (Pemda) serta aparat terkait dengan melakukan mobilisasi Kapal dan juga menyiapkan Peralatan Tumpahan Minyak sesuai dengan PPP 21 Tahun 2010, Perpres Nomor 109 tahun 2006 dan PermenHub Nomor 58 Tahun 2013 yang menginstruksikan setiap perusahaan yang memiiki eksposur resiko tinggi wajib menyiapkan peralatan penanggulangan minyak dan sumber daya manusia dengan standar yang telah ditetapkan oleh International Maritime Organization (IMO).

“Pekerja SKK Migas dan KKKS tidak mengenal hari libur bila berbicara mengenai kepentingan umum, hal tersebut terlihat pada saat kejadian pencemaran tanggal 31 Maret 2018 yang merupakan hari libur panjang bagi umumnya Pekerja,” kata Dedi pada media, Jumat (6/4/2018) di Jakarta. Koordinasi intens antara SKK Migas – Kontraktor KKS (Pusat dan Daerah) terus berlangsung dalam membantu Pertamina.

Kesiap siagaan tersebut, ungkap Dedi, tidak pernah surut walaupun sempat ada beberapa isu miring yang menyatakan adanya kebocoran atas pipa bawah laut Chevron Indonesia Company.

“Atas keyakinan disertai pengawasan yang melekat sejak hari pertama sampai dengan hari ini, SKK Migas-KKKS yakin kebocoran bukan berasal dari fasilitas hulu migas yang memang selalu dirawat dengan baik. Biaya pemeliharaan tentunya sangat mahal tapi mengingat dampak lingkungan yang terjadi bukan hanya terjadi pada hari-hari pencemaran tetapi bisa berdampak sampai dengan beberapa tahun mendatang dan dipastikan akan merusak ekosistem dan biota laut,” katanya.

Dia juaga menegaskan, pekerja SKK Migas – KKKS siap bilamana diminta untuk berkontribusi sesuai dengan kapasitas dan kompetensi yang ada untuk membantu pemulihan atas lingkungan pantai yang tercemar. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*