Kasus Minyak Tumpah di Teluk Balikpapan, Sistem HSE Pertamina Dipertanyakan

64700
Kasus Minyak Tumpah di Teluk Balikpapan, Sistem HSSE Pertamina Dipertanyakan
Foto : okezone.com

BALIKPAPAN (INDOPETRO)- PT Pertamina (Persero) membutuhkan banyak waktu untuk menyadari tumpahan minyak yang menyebabkan kebakaran di Teluk Balikpapan, Sabtu kemarin, adalah dari dampak kebocoran pipa di fasilitas Refinery Unit (RU) V miliknya. Keterlambatan ini menimbulkan keraguan terhadap sistem operasional Pertamina.

Sebelumnya, Pertamina menyatakan minyak yang tumpah tersebut tidak berasal dari fasilitasnya, melainkan merupakan marine fuel oil (MFO) atau bahan bakar kapal yang bocor dari kapal. Namun hal ini kemudian terbantahkan sejak ditemukannya pipa penyalur minyak mentah yang patah di kedalaman 25 meter. Pipa yang menyalurkan minyak dari Terminal Lawe-lawe di Penajam Paser menuju Kilang Balikpapan ditemukan sudah bergeser sejauh 120 meter dari posisi awal.

“Sebenarnya ada panel room tidak? Untuk mengetahui pipa itu bocor. Kan setelah bocor harusnya sudah tahu. Ini sebaliknya, kejadian sudah bocor tapi tidak ada yang tahu bocor, tidak ada yang tahu itu dari pipa mana?,” kata anggota Komisi III DPRD Balikpapan, Usman Daming, saat Rapat Dengar Pendapat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Kamis (5/4/2018).

Usman mengatakan, selama ini Pertamina dikenal sebagai perusahaan besar yang masuk kategori Badan Usaha MilikNegara (BUMN). Sehingga masyarakat berasumsi perusahaan ini memiliki teknologi yang mumpuni, terutama dalam hal Health Safety Environment (HSE) dari kegiatan produksi.

Menanggapi pertanyaan tersebut, General Manager PT Pertamina RU V Balikpapan, Togar MP, mengatakan bila sistem yang dimiliki Pertamina termasuk sudah lama. Di mana tidak ada penerapan teknologi deteksi dini, sehingga kebocoran pipa sulit untuk segera dideteksi.

“Tidak ada indikator kilometer di pipa itu. Hanya tersedia tekanan pompa yang ada diujung pompa saja. Teman-teman (karyawan Pertamina) tidak bisa memperkirakan sebetulnya,” ungkapnya.

Togar menjelaskan lagi, keberadaan pipa minyak yang dari Penajam Lawe-lawe ke Kota Balikpapan berbeda operatornya. Petugas yang menangani pipa di antara dua daerah ini memiliki fungsi berbeda.

“Tangki yang di Lawe-lawe sama yang di Balikpapan berbeda operatornya. Yang di Lawe-lawe hanya operasikan pompa saja, sementara yang di Balikpapan operasikan tangki,” ujarnya.

Dia menjelaskan, saat kejadian cemaran minyak di perairan laut, Sabtu (31/3/2018), pihaknya sudah turun ke lapangan untuk melakukan cek lapangan. Di antaranya melakukan pengambilan tumpahan minyak untuk diperiksa. “Sambil mencari dan mengambil sample, jam setengah sebelasan terjadi kebakaran di perairan,” kata Togar.

Kala itu, di perairan laut terlihat ada tumpahan minyak. Setelah 3,8 kilometer, lanjut Togar, penyelam tidak menemukan adanya kebocoran. Sehingga pencarian pun dihentikan.

“Diperiksa tidak ada ceceran minyak, tidak ada keboboran. Arus laut deras, pemeriksaan tidak bisa. Kami berpikir ini ada tumpahan minyak, lalu kita hentikan saja,” katanya.

Pemeriksaan dilanjutkan lagi dan dilakukan secara berulang-ulang. Kemudian hasil penelitian tim penyelam menemukan memang benar ditemukan adanya sobekan dan pipa yang putus, pada Senin (2/4/2018).

Esoknya, penyelaman berikutnya menggunakan alat sonar sense untuk pengambilan gambar agar jelas dan memang kebocoran terjadi di pipa milik Pertamina.

“Kami yankin (bocor), pertamanya tidak begitu yakin,” kata Togar. (Gadih)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*