Pertamina Jelaskan Kebocoran Pipa Penyebab Kebakaran di Teluk Balikpapan

51900
Kasus Minyak Tumpah di Teluk Balikpapan, Sistem HSSE Pertamina Dipertanyakan
Foto: inibalikpapan.com

BALIKPAPAN (INDOPETRO)- Setelah sebelumnya berdalih, akhirnya PT Pertamina (Persero) buka suara perihal tumpahan minyak yang mencemarkan Teluk Balipapan, Sabtu kemarin. Disebutkan insiden tersebut diakibatkan oleh patahnya pipa penyalur minyak mentah dari Terminal Lawe-Lawe di Penajam Paser Utara ke Kilang Balikpapan.

General Manager (GM) Pertamina Refinery Unit (RU) V Togar MP dalam konferensi pers di Balikpapan, Rabu (4/4/2018), menyebutkan bahwa pipa yang patah tersebut terletak di kedalaman 25 meter.

“Pipa penyalur minyak tersebut dipasang di tahun 1998 atau sudah dipakai selama 20 tahun,” kata Togar. Para penyelam melaporkan pipa berdiameter 20 inci dan tebal 12 milimeter tersebut ditemukan sudah bergeser 120 meter dari posisi awal di dasar Teluk Balikpapan.

Menurut Togar butuh kekuatan yang sangat besar untuk menarik pipa hingga patah. Lantaran, lanjutnya, pipa tersebut dibungkus casing semen agar tidak berkarat jika direndam di air laut. Kekuatannya juga ditambah untuk menahan tekanan air. Pertamina hingga kini masih menghitung volume minyak yang bocor ke laut.

“Penyebab patahnya pipa itu yang sedang kami selidiki sekarang,” kata Direktur Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Kalimantan Timur Komisaris Besar Polisi Yustan Alpian, pada kesempatan yang sama.

Togar memastikan pihaknya sudah menutup jalur penyaluran minyak mentah dari Lawe-Lawe ke Balikpapan segera setelah kebocoran terdeteksi. “Untuk tindak pencegahan,” tambahnya.

Awalnya, Pertamina berargumen minyak yang tumpah berasal dari marine fuel oil (MFO) atau bahan bakar kapal dan bukan merupakan minyak yang berasal dari Kilang Balikpapan.

Menurut Togar, timnya bahkan mengambil sampel tumpahan di sembilan titik berbeda, kemudian mengirimkannya ke laboratorium, termasuk satu laboratorium independen.

“Hasilnya tetap dinyatakan MFO atau bahan bakar kapal,” kata Togar.

Penyidikan terus dilakukan oleh Polda Kalimantan Timur. Insiden ini tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menjadi kasus pidana karena telah menewaskan lima nelayan lokal. (Gadih)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*