Konflik AS-Cina Reda, Harga Minyak Naik

32600
Konsumsi Listrik Lebaran Jawa-Bali Diprediksi Mencapai 16.000 MW
Foto : bisnis.com

TOKYO (INDOPETRO) – Naiknya harga minyak, Kamis (5/4/2018), kembali terjadi setelah pemerintahan Amerika Serikat menarik persediaan minyak mentah serta mulai redamnya konflik dagang antar AS dan Cina.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 20 sen, atau 0.3 persen, di angka US$63,57 per barel setelah sebelumnya sempat turun 14 sen. Sedangkan untuk Brent, naik 27 sen, atau 0.4 persen, di angka US$68,29.

Minyak bumi juga mendapat dukungan dari ekuitas global yang kuat, di mana AS menunjukkan keinginan untuk negosiasi resolusi dalam perdagangan setelah mengusulkan tariff AS di US$50 miliar untuk produk Cina yang kemudian memengaruhi impor AS.

“Kedua negara telah sama-sama bijaksana dalam bertindak, dan ini tidak terlihat akan ada perang pasar skala besar nantinya,” kata Tomomichi Akuta, ekonom senior di Mitsubishi UFJ Research and Consulting di Tokyo. “Masih ada harapan untuk berdialog.”

Sebelum adanya rebound Rabu kemarin, setelah rilis data inventaris Energy Information Administration (EIA), WTI dan Brent telah mencapai dasar dua minggu berturut-turut setelah Cina mengajukan jeda yang luas untuk tariff ekspor AS. Di mana dapat memicu adanya perang dalam perdagangan.

Produksi minyak mentah AS turun 4,6 juta barel minggu lalu, dibandingkan dengan prediksi para analis yang mengira akan naik 246 ribu barel, dikutip dari rilis EIA, Rabu (4/4/2018).

Kenaikan harga minyak juga terjadi setelah survei dari Reuters yang menyebutkan, pada Rabu, output minyak OPEC turun di Maret dikarenakan penurunan ekspor Angola, vakumnya produksi Libya dan rendahnya produksi Venezuela.

“Perdagangan Asia sempat tidak aktif setelah pasar Cina ditutup karena libur imlek,” kata Akuta.

Sementara, permintaan minyak Jepang menurun untuk mempercepat penyusutan populasi. Prediksi tahunan dari komite energi Jepang mengatakan, Kamis ini permintaan minyak negara, kecuali minyak bahan bakar untuk pembangkit listrik, diproyeksikan akan turun rata-rata 1.7 persen per tahun hingga lima tahun mendatang. (Gadih)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*