Industri EPCI Hulu Migas Diharap Bergairah di Daerah

14700
Capaian Hulu Migas Semester I/2018: Eksplorasi Masih Harus Digenjot
Foto : eksplorasi.id

JAKARTA (INDOPETRO)- Industri Engineering, Procurement, Construction (EPCI) minyak dan gas bumi (migas) diharapkan harus berkembang di daerah. Pasalnya, selama ini terpusat di tingkat pusat. Padahal jamak diketahui, industri hulu migas umumnya berada di daerah. Apa saja dampaknya bila EPCI di daerah bergairah?

“Dengan pengembangan industri EPCI pada tingkatan daerah akan berimbas positif bagi masyarakat serta industri terkait di daerah yang bersangkutan. Harus ada pengadaan untuk daerah, enggak semua di Jakarta, supaya multiplier effect juga terjadi daerah,” kata Bayu Murbandono, Senior Manager Kapasitas Nasional Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dalam diskusi dengan tema Optimasi EPC Migas Terintegrasi dan Strategi Penguatan Kapasitas Nasional dalam Menunjang Geliat Industri Migas Nasional pada Rabu (4/4/2018) di Jakarta.

Pemerintah telah membuat road map untuk pengembangan industri EPCI nasional, dari jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang, seperti termaktub dalam Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 15 Tahun 2013. Di mana untuk jangka pendek pada periode tahun 2013-2016, jasa EPCI nasional untuk kegiatan hulu migas di darat harus mencapai 30%, sementara untuk EPCI di laut sebesar 35%. Lalu, untuk jangka menengah tahun 2017-2020, yang berarti periode sekarang ini, EPCI nasional di darat sudah harus bisa mencapai 70%, dan di laut sebesar 45%.

Sedangkan untuk jangka panjang periode tahun 2021-2025, EPCI nasional di darat sebesar 90%, dan di laut sekitar 55%.

“Untuk jangka menengah sekarang ini teman-teman EPCI harus aware, karena sudah diminta yang darat 70 persen, dan laut 45 persen. Yang darat itu cukup besar karena mungkin teknologinya relatif sudah ada, tapi itulah tantangan kita bersama,” papar Bayu.

Dia juga menyampaikan, industri hulu migas akan bisa berlari dengan cepat jika didukung oleh industri EPCI. Sebab industri hulu migas tidak bisa berdiri sendiri tanpa ada penopangnya. Dan salah satu penopangnya EPCI. Bila EPCI nya kuat maka dapat dipastikan industri hulu migas juga kuat.

Selama ini, diakui bahwa pihak Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS) migas sebagai pengguna barang dan jasa sangat bergantung pada industri penopang migas dalam negeri, termasuk untuk EPCI, dalam menjalankan kegiatan operasi hulu migasnya.

“Kalau industrinya (EPCI) kuat tentunya kami akan sangat senang, karena industri kami bisa bertumbuh, bukan hanya menggeliat tetapi bisa lari,” katanya.

Sementara itu, untuk pengembangan industri di daerah, Solehan, Deputi Direktur Program Pengembangan dari Ditjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, menyatakan bahwa pemerintah saat ini tengah mengembangkan banyak kawasan industri di berbagai daerah guna menumbuhkan industri-industri pada tingkatan lokal, termasuk untuk industri EPCI.

Menurut Solehan, ada 14 Kawasan Industri Prioritas yang tengah dibangun berdasarkan RPJMN 2015-2019. “Proyek strategis nasional ini harus beroperasi tahun 2019,” ujar Solehan. Empat belas Kawasan Industri (KI) tersebut akan menyusul tujuh KI yang sudah beroperasi yaitu KI Kendal, KI Tanjung Buton, KI Dumai, KI Tanah Kuning (Kaltara), KI JIIPE (Gresik), dan KI Terpadu Wilmar (Serang, Banten).

Ditambahkan olehnya, industri logam dan mesin/peralatan dalam negeri sebenarnya telah memiliki potensi dan kemampuan sebagai unit pendukung kegiatan hulu migas. “Kegiatan pendukung tersebut mencakup kegiatan jasa engineering (EPCI), dan memproduksi mesin/peralatan pendukung seperti pressure vessel, pompa, generator, kompresor, dan lain-lain,” tandasnya. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*