BATAN (Juga) Lakukan Penelitian Cadangan Migas dan Geothermal

38700
BATAN (Juga) Lakukan Penelitian Cadangan Migas dan Geothermal
istimewa

JAKARTA (INDOPETRO)-Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) pada 2018 genap berusia 60 tahun. Berbagai capaian berupa hasil penelitian dan pengembangan di bidang teknologi nuklir telah diraih. Hasil penelitian dan pengembangan teknologi nuklir kini dapat dirasakan oleh masyarakat di berbagai bidang, diantaranya pertanian, kesehatan, industri, dan lingkungan.

Batan sebagai satu-satunya lembaga pemerintah yang diberi tugas melakukan penelitian, pengembangan dan pendayagunaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) nuklir juga memberikan layanan jasanya kepada masyarakat untuk memberi solusi di berbagai bidang. Berbagai layanan yang ditawarkan kepada masyarakat antara lain jasa kalibarasi, sertifikasi, analisis pemantauan radiasi, iradiasi, pengelolaan limbah radioaktif, eksplorasi bahan galian nuklir, pengujian material, konsultan profesional, uji tak merusak, pengembangan SDM nuklir, dan produk komersial di bidang kesehatan.

Kepala Batan, Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan, meskipun belum optimal, hasil penelitian dan pengembangan teknologi nuklir yang dilakukan Batan sudah mampu menjawab kebutuhan masyarakat. “Produk litbang Batan sudah bisa menjawab kebutuhan masyarakat tetapi belum optimal.

“Pelanggan kita ada 5000 perusahaan. Bagaimana pelanggan ini tidak lari,” kata Djarot pada acara temu pelanggan yang diprakarsai oleh Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi (PTKMR), Kamis (5/4/2018) di Kawasan Nuklir Pasar Jumat, Jakarta. Bahkan pihaknya menaikkan target pelanggan hingga 30%. Menurutnya, tugas Batan adalah agar industri nuklir tumbuh di Tanah Air.

Salah satu perusahaan energi yang menjalin kerja sama dengan Batan adalah Pertamina. “Kita melakukan pemantauan radiasi dan kalibarasi,” kata Abarrul Ikram, dari Pusat Teknologi Keselamatan Metrologi dan Radiasi Batan.

Disamping itu, Batan juga melakukan pemantauan tentang cadangan minyak dan gas bumi (migas) di beberapa wilayah. “Pemantauan tentang potensi geothermal juga kita lakukan,” kata Deputi Bidang Pendayagunaan Teknologi Nuklir Batan, Hendig Winarno.

Menurut Djarot, lembaganya saat ini tengah melakukan feasibility study nuklir di Nusa Tenggara Barat (NTB). Sedangkan di Bangka Belitung dan Jepara telah dilakukan feasibility study. “Setelah selesai melakukan feasibility study, itu bukan lagi kewenangan dan tugas Batan lagi,” ujar Djarot. Hal tersebut sudah menjadi ranah Kementerian ESDM.

Djarot menegaskan, untuk bidang energi, institusi Batan sebenarnya sudah cukup matang menyiapkan program Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) berupa studi tapak dan kelayakan dan lain-lain, tetapi belum mampu meyakinkan pemerintah untuk go nuclear.

Berbagai upaya dilakukan Batan untuk mengenalkan hasil litbang nuklir kepada masyarakat. Salah satunya dengan menjalin kerja sama dengan badan usaha yang mampu menghilirkan hasil litbang nuklir kepada masyarakat, misalnya dengan PT. Sang Hyang Seri dalam hal penyebarluasan benih padi, dengan PT. Kimia Farma untuk radiofarmaka.

Di bidang non energi, Batan telah menghasilkan banyak hal, tetapi mungkin pemanfaatannya belum dapat menjangkau masyarakat banyak,” kata Djarot.

Selain itu, upaya mengenalkan hasil litbang iptek nuklir dapat dilakukan dengan mengadakan open house, seminar, dan diseminasi Pendayagunaan Hasil Litbang Iptek Nuklir (PHLIN). Namun menurut Djarot, pola diseminasi yang efektif dan masif adalah dengan mengajak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau melalui Kementerian/Lembaga untuk bersama-sama mengenalkan nuklir.

Meskipun Batan telah menghasilkan banyak produk jasa layanan kepada masyarakat, namun Batan merupakan lembaga penelitian bukan lembaga yang berorientasi bisnis. Adapun skema pembayaran jasa layanan tersebut menggunakan tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang ditentukan oleh pemerintah melalui peraturan perundang-undangan.

Menurut Djarot, hal ini perlu disosialisasikan kepada para pengguna jasa layanan Batan. “Pelanggan kita adalah masyarakat termasuk swasta, yang menganggap kita harus memberi pelayanan yang murah, dan menganggap Batan bisa berjualan yang segera bisa menghasilkan keuntungan dalam bentuk uang. Ini yang perlu kita sosialisasikan secara terus menerus, bahwa Batan adalah lembaga litbang,” tandasnya. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*