KPBB Sebut Pertamina Tidak Usah Jual Premium Lagi

29800
Pertamina Siap Amankan Pasokan BBM - LPG Ramadhan dan Idul Fitri 2018
Foto: indowarta.com

JAKARTA (INDOPETRO)- Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) menyebutkan agar PT Pertamina (Persero) menghentikan penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium. Menurut Direktur Eksekutif KPBB, Ahmad Safrudin, hal ini lebih baik dilakukan ketimbang Pertamina menahan pasokan Premium sebagai strategi manaikkan harga BBM oktan 88 tersebut.

Safrudin menyebutkan, seharusnya perusahaan plat merah tersebut mematuhi perundang-undangan yang mengamanatkan bahwa Pertamina harus segera menghentikan pasokan BBM yang tidak sesuai dengan standar kendaraan Euro 2 atau bensin dengan kadar oktan di bawah 91.

Ini juga sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Nomor P20/2017 tentang Standar Emisi Kendaraan Tipe Baru dan yang Sedang Diproduksi. Di mana mengharuskan peningkatan pasokan BBM dengan kualitas tinggi.

“Dengan begitu, berbagai jenis BBM itu harus dihentikan, baik produksi maupun pemasarannya. Digantikan dengan BBM yang memenuhi persyaratan teknis untuk standar Euro 4, setidaknya untuk bensin RON 91 dan solar cetane 51 dengan kadar sulphur maksimal 50 ppm,” kata Safrudin di suatu diskusi, di Jakarta, Selasa (3/4/2018).

Mengenai kelangkaan Premium saat ini, Safrudin berpendapat ini merupakan strategi Pertamina untuk menaikkan harga Premium. “Saya harap kelangkaan segera diselesaikan. Ini hanya trik Pertamina menaikkan harga premium,” katanya.

Menurutnya, dengan harga jual premium di pasaran sebesar Rp6.550, Pertamina masih untung. Idealnya, harga premium di stasiun pengisian bahan bakar minyak (SPBU) dijual Rp5.800 per liter karena harga Mean Oil Platts Singapore (MOPS) di kisaran Rp4.600 per liter. Artinya, Pertamina masih mendapat untung di kisaran Rp600 per liter.

“Jika Pertamina berani menaik kan harga, menjual lebih mahal itu tidak benar. Selama ini Pertamina tidak transparan dalam proses penetapan harga,” katanya.

Safrudin pun menambahkan, konsumsi Premium sia-sia, hanya akan merusak kendaraan karena tidak sesuai dengan spesifikasi. “Kenapa ini terus dikembangkan, karena kami menduga ini berkaitan dengan permainan trader BBM di Asia Tenggara,” ujarnya.

“Saya harap kelangkaan segera diselesaikan. Ini hanya trik Pertamina menaikkan harga Premium,” kata Safrudin.

Sementara itu, Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Djoko Siswanto mengakui, jika pengurangan pasokan premium karena ada ketentuan dari KLHK untuk meningkatkan pasokan BBM dengan kualitas lebih tinggi.

Meski begitu, Djoko meminta Pertamina agar tidak mengurangi pasokan Premium di pasaran kendati harus meningkatkan pasokan BBM dengan menyediakan Euro 4. “Ini dalam menjaga lingkungan lebih bersih. Itu pilihan roadmap dari pemerintah,” kata Djoko.(Gadih)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*