METI Sebut Pembangunan Infrastruktur EBT Turun

28800
MITI : Kebijakan EBT Pemerintahan JKW-JK Berubah-ubah

JAKARTA (INDOPETRO)- Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2018-2027 hampir semua pembangkit mengalami penurunan rencana pembangunan infrastruktur energi. “Untuk pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) ironisnya diperkirakan mengalami penurunan sekitar 8.000 MW,” kata Paul Butarbutar, Ketua Bidang Advokasi dan Regulasi Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) pada sejumlah media, Senin (2/4/2018) di Jakarta.

Dari sisi pinjaman perbankan, lanjutnya juga mengalami permasalahan terkait besarnya bunga sebesar 12%. “Padahal untuk dana di luar negeri jauh di bawah itu, idealnya adalah 5-6%,” kata Paul.

Apa yang disampaikan Paul juga diakui oleh pihak PLN. “Secara kapasitas mengalami penurunan,” kata Budi Mulyono, Senior Manager Energi Baru Terbarukan PT PLN (Persero). Hal ini, katanya, karena pembangkit lainnya mengalami penurunan juga sehingga bauran energi untuk energi baru terbarukan direncanakan akan tercapai target hingga 23% pada tahun 2025.

Lebih jauh Paul juga mengkritik regulasi EBT. Dia mengatakan, regulasi yang dikeluarkan Kementerian ESDM dari tahun ke tahun telah menghambat investasi untuk pengembangan EBT.

“Sejak 2009, pertama kali ada aturan feed in tariff, kita sudah berkali-kali merubah revisi aturan. Bagi investor ini sangat menganggu karena kita enggak punya aturan yang stabil untuk jangka panjang,” ujarnya. Selain itu Paul juga mempertanyakan tentang kepastian aturan dalam jangka panjang.

“Kapan kita punya aturan yang stabil yang bisa digunakan jangka panjang sehingga ketika investor kembangkan proyek dia yakin proyek itu bisa dibangun?” lanjut Paul. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*