Dikritik Laba Turun, Ini Alasan PGN

15000
Pendapatan Kuartal I/2018 PGN Capai Rp 10,83 Triliun

JAKARTA (INDOPETRO) – Sejak merosotnya laba akhir tahun 2017 lalu disorot Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), PT Perusahaan Gas Negara (Persero) atau PGN sempat diragukan untuk ikut dalam holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Minyak dan Gas (Migas) bersama PT Pertamina (Persero). Berikut beberapa faktor yang menyebabkan turunnya laba BUMN ini.

Tercatat laba PGN turun di angka US$ 143 juta di akhir tahun lalu dari sebelumnya mencapau US$ 845 juta pada 2013. Terkait ini, Sekretaris Perusahaan PGN, Rachmat Hutama, akhirnya buka suara. Beliau menjelaskan bahwa menurunnya laba disebabkan PGN, sebagai BUMN, tengah mendukung program pemerintah dalam pemenuhan pasokan gas yang terjangkau untuk industri dan masyarakat. PGN tidak menaikkan harga pokok penjualan (HPP) gas ke pelanggan, meskipun harga beli gas domestik dari kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) terus naik.

Dikutip dari data PGN, HPP gas domestik mengalami kenaikan rata-rata sebesar 8 persen pada periode 2013 sampai 2017. Mulai dari US$ 1,58 per MMBTU menjadi US$ 2,17 per MMBTU.

Rachmat menjelaskan, pihaknya terakhir kali melakukan penyesuaian harga jual gas bumi pada medio 2012-2013 lalu. Penyesuaian kemudian tidak dilakukan berikutnya seiring adanya Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi.

Di mana Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) wajib melarang perusahaan distributor gas menjual dengan harga lebih dari US$ 6 per MMBTU untuk enam industri, yaitu pupuk, petrokimia, oleochemical, baja, keramik, kaca, dan sarung tangan karet.

Adapun beleid lainnya, tambah Rachmat, untuk menurunkan harga jual gas kepada pelanggan industri di Medan sesuai Keputusan Menteri ESDM Nomor 434.K/2017, ESDM meminta PGN menjual gas dari harga rata-rata awal US$1,35 per MMBTU menjadi US$ 0,9 per MMBTU. “Perusahaan menanggung beban sebesar US$ 3 juta per tahun,” katanya, di Jakarta, Rabu (28/3/2018).

Adapun program lain yang dijalankan adalah membangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) dan Jaringan Gas Rumah Tangga (Jargas) dengan biaya mencapai US$ 4,9 juta per tahun. Selain itu PGN juga memberi insentif harga kepada PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) agar biaya pokok produksi (BPP) listrik untuk konsumsi masyarakat tidak naik.

Rachmat memastikan manajemen PGN telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah laba perusahaan turun lebih dalam. PGN menekan biaya operasional menjadi US$ 457 juta pada akhir 2017. Artinya dalam lima tahun terakhir, PGN berhasil menurunkan Compound Annual Growth Rate (CAGR) biaya operasional sebesar 3 persen dari US$ 511 juta pada 2013 lalu.

Manajemen juga menekan jumlah utang atau liabilitas jangka pendek maupun jangka panjang perusahaan. Sampai akhir 2017 lalu, liabilitas PGN tercatat sebesar US$ 3,10 miliar, berkurang signifikan dibandingkan posisi liabilitas 2016 sebesar US$ 3,66 miliar.

“Kami melakukan berbagai upaya efisiensi sehingga mampu mencetak laba di tengah kondisi perekonomian saat ini,” kata Rachmat. (Gadih)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*