Tujuh Ribu Warga Pagerungan Sumenep Madura Belum Diterangi PLN

84200
Konsumsi Listrik Lebaran Jawa-Bali Diprediksi Mencapai 16.000 MW
Foto : dumaisatu.com

JAKARTA (INDOPETRO) – “Ibarat ayam mati di lumbung padi”.

Pepatah ini boleh jadi sangat relevan untuk menggambarkan situasi masyarakat di Desa Pagerungan Kecil, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep Madura, Jawa Timur, belum dapat menikmati aliran listrik dari PT PLN (Persero). Padahal Pulau Pagerungan dikenal sebagai lumbung minyak dan gas bumi (migas).

Selama ini warga hanya mengandalkan penerangan dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Selain kapasitas terbatas, 200 kWh untuk 1700 Kepala Keluarga (KK), harganya pun selangit. “Rp 500.000 per bulan. Biayanya termahal di dunia,” kata Zainullah Adnan, salah seorang warga Pagerungan Kecil pada indopetro, Sabtu (24/3/2018).

Dia juga mengungkapkan PLTD rawan kerusakan. “Kalau sudah rusak, otomatis warga tidak mendapatkan penerangan. Bisa sampai 5, 10, 15, 20 hari. Bahkan sampai 1 bulan belum ada perbaikan mesin,” ujarnya.

Zainullah mengungkapkan bahwa PLTD dikelola oleh masyarakat bersifat secara swadaya. Karena itu dana yang dibayarkan oleh warga dipergunakan untuk membeli Bahan Bakar Minyak (BBM) dan gaji pengelola.

Lebih jauh Zainullah mengungkapkan, durasi penerangan dari PLTD juga sangat terbatas. Rumah-rumah penduduk mulai diterangi lampu pada pukul 05.30 WIB hingga 10.30 WIB. “Jadi nyalanya selama 5 jam. Sungguh menyakitkan karena tanah kami sumber minyak dan gas,” katanya, lirih. Seusai lampu diesel padam, warga biasanya kembali beralih ke penerangan lampu konvensional seperti petromak, lampu kecil bersumbu. Ada juga yang menggunakan lampu tenaga surya.

Saat ditanyakan, apakah pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep mengetahui perihal belum beroperasinya PT PLN di Pagerungan, Zainullah menjawab, “Sudah tahu, tapi janji tinggal janji”.

Sebagai catatan, berdasarkan data Direktorat Jenderal (Dirjen) Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kem ESDM), total potensi migas di Sumenep sekitar 6 triliun kaki kubik, dan masih bisa dieskplorasi hingga 30 tahun ke depan.

Diantara sumber migas yang diekplorasi sejak lama adalah Blok Kangean. Saat ini dikelola dan dieksplorasi oleh beberapa korporasi multinasional yang bergerak di bidang industri pertambangan migas. Misalnya, PT Arco Bali North (ABN), PT Arco Blok Kangean (ABK), PT Beyond Petroleum Indonesia (BPI), dan PT Energi Mega Persada (EMP).

Blok Kangean memiliki cadangan lebih dari satu triliun kaki kubik (TCF) gas. Produksi gas ini bisa dioptimalkan menjadi 800 juta kaki kubik per hari. Produksi gas Blok Kangean disuplai ke pusat-pusat industri di Gresik, seperti PT Petrokimia, PT Gas Negara (PGN), dan PT PLN Distribusi Jawa-Bali, dan lain sebagainya.

Sumber migas lainnya berada di Pulau Pagerungan Besar, Kecamatan Sapeken, Sumenep Madura. Daerah tersebut menghasilkan 11,74 juta barel minyak dan kondensat serta 947 juta kaki kubik gas setiap hari.

Jika ditambah dengan beberapa blok gas lainnya, Sumenep mampu mensuplai 60% kebutuhan gas Jawa Timur. Hasil eksplorasi dialirkan melalui pipa gas bawah laut (East Java Gas Pipe Line) sepanjang 350 km ke Gresik, Surabaya, dan Sidoarjo.

Selain Blok Kangean dan Pagerungan Besar, sumber-sumber migas di Sumenep juga terdapat di Pulau Sepanjang, Terang Sirasun, Batur, Giligenting, Masalembu, Kalianget, Raas, dan beberapa kecamatan di Sumenep daratan.

Sudah lebih dari 10 perusahaan operator migas yang telah, sedang, dan akan mengelola beberapa blok migas di Sumenep, seperti Trend Java Sea, Masalembu Shell, British Petroleum, Mobile Oil, Arco Kangean, Amco Indonesia, Hudbay Oil International, Anadarko, Petronas Carigali dan Santos Oil.

Melimpahnya sumber energi di Sumenep tetapi masih ada sebagian warganya yang belum memperoleh listrik dari PLN ibaratnya seperti ayam yang mati di lumbung energi. Ironis plus menyakitkan! (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*