ESDM: Bangun Kilang Lebih Baik Ketimbang Impor

35600
Pengamat Sayangkan Sikap Wamen ESDM Tegur Panitia IPA Convex 2018
Foto : merdeka.com

JAKARTA (INDOPETRO) – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berkomitmen mendukung pembangunan kilang untuk mendukung ketahanan energi nasional. Fasilitas ini ke depannya bermanfaat mengefisien pemenuhan kebutuhan masyarakat atas produk minyak olahan, dibandingkan impor.

“Kilang ini bisnis ‘blue ocean’, bukan ‘red ocean’, kita tidak mengganggu negara lain karena market-nya kita sendiri dalam rangka energy security,” kata Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar, di Jakarta, Minggu (25/3/2018).

Arcandra menjelaskan, saat ini masyarakat Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa memiliki total kebutuhan atas produk minyak olahan sekitar 1,7 juta barel per hari. Sedangkan kapasitas kilang nasional saat ini baru sekitar 1 juta barel per hari (bph), di mana setiap harinya mampu mengolah minyak mentah sekitar 800 ribu bph. Sementara dari total produksi tersebut, 400 ribu bph adalah hak pemerintah.

“Kalau kita lihat produksi (minyak mentah) kita 800.000 bph, yang benar-benar menjadi hak pemerintah hanya sekitar 400.000 (bph), sisanya hak KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) yang bisa dijual ke mana saja (ekspor). Sehingga untuk pengolahan di kilang kita masih butuh 400.000 (bph) lagi dari impor. Dengan kebutuhan 1,6 hingga 1,7 juta bph, kita masih kurang sekitar 900 ribu bph” katanya.

Dia pun mejelaskan terdapat perbedaan hingga 5 persen saat melakukan impor. Misal, pada produk impor RON 92 seharga US$ 72-74 per barel, terdapat spread (selisih harga jual dan harga beli) sekitar US$ 3,5 per hari. Jika dalam sehari nilai impor mencapai US$ 3 juta, maka total selisih biaya yang dikeluarkan dalam setahun mencapai US$ 1 miliar. “Jadi kalau mau bikin kilang atau impor, ya (pilih) kilang,” katanya.

Saat ini ESDM sudah menunjukkan komitmennya dalam membangun kilang. Saat ini kementerian ini tengah melakukan Refinery Development Master Plan (RDMP), yaitu meremajakan kilang eksisting di Cilacap, Balongan, Balikpapan, dan Dumai agar kapasitasnya meningkat. Selain itu ada dua kilang baru di Tuban dan Bontang yang sedang dibangun.

Arcandra menambahkan, terkait ketahanan energi dibutuhkan pemikiran bersama dan kesadaran untuk mengakui bahwa ada masalah yang harus diselesaikan bersama.

“Kita harus bisa mendefinisikan problem statement. Lalu kita cari penyelesaiannya bersama-sama,” ujarnya. (Gadih)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*