Ini Dia Strategi PLN Kembangkan Pembangkit EBT

18300
MITI : Kebijakan EBT Pemerintahan JKW-JK Berubah-ubah

JAKARTA (INDOPETRO)- Mengantisipasi berakhir era berbasis fosil, PT PLN (Persero) telah melakukan kajian dan terobosan dalam penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) menggantikan batubara sebagai bahan baku pembangkitnya. Apa saja strateginya?

Menurut Direktur Utama PT PLN, Sofyan Basir, pengembangan pembangkit EBT tetap memperhatikan keseimbangan supply–demand, kesiapan sistem dan keekonomian.

“PLN akan memanfaatkan sumber energi terbarukan dari jenis energi aliran dan terjunan air, energi panas bumi (termasuk skala kecil/modular), biofuel, energi angin, energi sinar matahari, biomassa dan sampah, dan lain semacamnya,” kata Sofyan pada sejumlah wartawan, Jumat (23/3/2018) di Jakarta. Selain itu, pihaknya juga mendukung upaya RE-BID (Renewable Energy Based on Industrial Development).

Khusus mengenai PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya), akan dilakukan strategi dengan mengembangkan centralized PV. Hal ini ditempuh sebagai upaya untuk melistriki banyak komunitas terpencil yang jauh dari grid pada daerah tertinggal, pulau-pulau terdepan yang berbatasan dengan negara tetangga dan pulau-pulau terluar lainnya.

“PLTS hybrid dengan PLTD atau menggunakan baterai. Strategi ini diprioritaskan untuk daerah yang jam nyalanya rendah (di bawah 12 jam/hari), umumnya di Indonesia Timur,” ungkap Sofyan.

Dia mengutarakan bahwa pengembangan micro grid untuk daerah-daerah isolated. “Daerah yang dalam 2-3 tahun kedepan belum direncanakan untuk dibangun distribusi atau pembangkit thermal kecil, diusulkan untuk menggunakan PLTS,” katanya.

Diketahui, dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), pemerintah menetapkan bauran EBT pada tahun 2025 sebesar 23%. Tentu, butuh konsistensi banyak pihak agar angka ini dapat tercapai. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*