Shell Lihat Pasokan LNG 2020 Dunia Terancam Turun

25900
Petronas Kirim Kargo LNG Pertama ke S-Oil Korsel
Foto : linkedin.com

JAKARTA (INDOPETRO)- Shell melihat potensi kurangnya persediaan Liquefied Natural Gas (LNG) global pada pertengahan 2020, kecuali jika ada komitmen proyek baru yang dilakukan. Hal ini disampaikan melalui LNG Outlook tahunan Shell yang mencatat pertumbuhan permintaan komoditas ini sebesar 29 juta ton menjadi 293 juta ton pada 2017. LNG Outlook 2018 dari Shell dapat dilihat secara lengkap di www.shell.com/lngoutlook.

Di Asia sendiri, permintaan naik sebesar 17 juta ton. Itu sama seperti hasil produksi LNG di Indonesia pada 2017, sebagai eksportir LNG terbesar kelima di dunia. Duduk di posisi pertama pengimpor LNG terbesar dunia, Jepang yang diikuti Cina dan Korea Selatan. Total permintaan LNG di Cina mencapai 38 juta ton, hal ini merupakan hasil dari pertumbuhan dan kebijakan ekonomi yang terus berlanjut untuk mengurangi polusi udara melalui pengalihan batubara ke gas.

“Kami masih melihat permintaan yang signifikan dari importir tradisional di Asia dan Eropa, namun kami juga melihat LNG menyediakan persediaan energi yang fleksibel, andal dan bersih untuk negara-negara lain di seluruh dunia,” kata Integrated Gas and New Energies Director Shell, Maarten Wetselaar, melalui pernyataan resmi, Selasa (20/3/2018).

Peran LNG dalam sistem energi global meningkat selama beberapa dekade terakhir. Sejak tahun 2000, jumlah negara yang mengimpor LNG telah meningkat empat kali lipat dan jumlah negara yang memasoknya hampir naik dua kali lipat. Perdagangan LNG meningkat dari 100 juta ton pada tahun 2000 menjadi hampir 300 juta ton pada tahun 2017. Jumlah gas tersebut sangat cukup untuk menghasilkan listrik bagi 575 juta rumah.

Pembeli LNG terus menandatangani kontrak dengan jangka waktu yang lebih pendek dan dengan jumlah yang lebih kecil. Pada 2017, jumlah spot kargo LNG yang terjual mencapai 1.100 untuk pertama kalinya, setara dengan tiga kargo yang dikirim setiap hari. Pertumbuhan ini sebagian besar berasal dari pasokan baru yaitu, Australia dan Amerika Serikat.

Ketidakcocokan persyaratan antara pembeli dan pemasok semakin meningkat. Sebagian besar pemasok masih mencari penjualan LNG jangka panjang untuk mendapatkan sumber pemasukan yang lebih stabil. Namun pembeli LNG semakin menginginkan kontrak yang lebih pendek, lebih kecil dan lebih fleksibel sehingga mereka dapat bersaing lebih baik di pasar energi dan gas hilir mereka sendiri.

Ketidakcocokan tersebut perlu diatasi agar pengembang proyek LNG dapat membuat keputusan investasi akhir yang diperlukan untuk memastikan persediaan bahan bakar ramah lingkungan untuk ekonomi dunia cukup memadai. (Gadih)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*