Menlu AS Dilengserkan, Pasar Harga Minyak Terguncang?

25000
Menlu AS Dilengserkan, Pasar Harga Minyak Terguncang?
Foto: timesmagazine.com

WASHINGTON (INDOPETRO)- Pada Selasa malam (13/3/2018), Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memecat Menteri Luar Negeri Rex Tillerson via Twitter akibat selisih pendapat soal kesepakatan nuklir Iran. Trump menunjuk Direktur CIA Mike Pompeo sebagai penggantinya. Langkah tersebut dianggap kontrak produktif terhadap pasar minyak. Benarkah?

Untuk saat ini, hanya dapat dikatakan bahwa tindakan Trump meningkatkan unsur ketidakpastian di pasar minyak. Selain peningkatan probabilitas konflik geopolitik, terdapat pula kemungkinan interupsi atas pasokan minyak global karena Iran merupakan salah satu eksportir minyak terbesar.

Sebuah studi dari Universitas Columbia baru-baru ini menyebutkan bahwa output Iran bisa turun sekitar 400,000-500,000 barel per hari (bph) dalam tahun pertama, jika sanksi diberlakukan kembali. Jumlahnya bisa membesar jika negara-negara lain yang terlibat dalam kesepakatan itu, seperti China, ikut menarik diri.

Namun, kecil kemungkinannya langkah Trump diikuti oleh negara-negara lain, mengingat sejumlah tindakan kontroversialnya baru-baru ini, seperti penerapan bea impor logam tinggi. Apalagi, karena Iran terus menerus menaati persyaratan dalam kesepakatan tersebut, maka jika AS menarik diri, justru merekalah yang akan dianggap mangkir.

Seperti diketahui, harga minyak tipe Brent menurun 0.12 persen ke USD64.63 pada awal perdagangan sesi Asia pada Rabu (14/3/2018), sementara West Texas Intermediate (WTI) melandai 0.07% ke USD60.78. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*