Pegawai KESDM Ikuti GPM di Selandia Baru

8500
WK Migas Gross Split Migas Diteken
katadata.co.id

JAKARTA (INDOPETRO)- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali mengirimkan 23 peserta untuk mengikuti Geothermal Project Management (GPM) yang dilaksanakan 12 Maret sampai dengan 11 April 2018 di Auckland, Selandia Baru. Program ini merupakan kerja sama Kementerian ESDM melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) dengan MFAT (Ministry of Foreign Affairs and Trade) Selandia Baru.

“Memasuki tahun hubungan diplomatik yang ke-60, Pemerintah Selandia Baru memandang Indonesia sebagai partner yang sejajar dengan negara lainnya seiring dengan semakin meningkatnya perekonomian Indonesia,” ujar Duta Besar Selandia Baru, Trevor Matheson untuk Indonesia.

Ia menyampaikan, energi terbarukan (renewable energy) dalam bauran energi di Selandia Baru saat ini sudah mencapai 80%, dan ditargetkan pada tahun 2025 akan menjadi 100%. Oleh karena itu, Matheson berharap program ini dapat dijadikan ajang berbagi pengalaman dengan bangsa Indonesia.

Sedang Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Energi dan Sumber Daya Mineral (BPSDM ESDM), IGN Wiratmadja Puja, menyambut baik kerjasama ini. “Kita harapkan kerjasama ini dapat meningkatkan pengembangan geothermal di Tanah Air,” kata Wiratmadja, Senin (12/3/2018) di Jakarta.

Program ini merupakan pelaksanaan tahun kedua dimana sebelumnya 24 peserta dari Indonesia mengikuti kegiatan GPM pada tahun 2017, dengan biaya full short term training scholarships dari Pemerintah Selandia Baru.

Tahun ini, terpilih 23 orang peserta untuk mengikuti program pelatihan tersebut, dengan rincian 3 orang dari Kementerian ESDM, 1 orang dari Bappenas, 2 orang dari Universitas dan 18 orang dari Badan Usaha sub sektor panas bumi: PT. Geodipa, PT. Pertamina Geothermal Energi, Star Energy, dan Supreme Energy.

Sejarah perkembangan energi panas bumi di Indonesia memang tidak bisa terlepas dari perkembangan panas bumi di Selandia Baru. Berawal pada tahun 1972 dimana Geothermal Energy ltd (GENZL) bekerja sama dengan Pertamina mengembangkan lapangan panas bumi di Kamojang. Sekitar 42 tahun kemudian, pada 2018 ini Indonesia akan menjadi negara kedua terbesar setelah Amerika Serikat sebagai penghasil energi listrik panas bumi dengan total kapasitas mencapai sekitar 2.023,5 MW setelah beroperasinya PLTP Sibuai-buai (sarula Unit 3, 110 MW), PLTP Lumut Balai (55 MW), PLTP Sorik Marapi Modular (20 MW), Sokoria Unit 1 (5 MW) dan Lahendong Binary (5 MW). (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*