Menteri Jonan: 2019, 20.000 MW Pembangkit Listrik Siap Operasi

29600
Menteri Jonan: 2019, 20.000 MW Pembangkit Listrik Siap Operasi
Foto : fokusbisnis.com

JAKARTA (INDOPETRO)- Masuk dalam program listrik 35.000 Megawatt (MW), beberapa pembangkit berkapasitas total 20.000 MW diperkirakan dapat mulai beroperasi pada 2019, selebihnya pada 2024-2025. Ini membuktikan bahwa mega proyek tersebut masih sesuai dengan target yang ditetapkan.

“Memang ekspektasi publik tinggi terhadap program tersebut, namun membangun pembangkit skala besar tidak bisa selesai dalam waktu singkat. Butuh sekitar tiga tahun untuk beroperasi setelah konstruksi,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, dalam konferensi pers di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (6/3/2018).

Hadir juga dalam kesempatan tersebut Direktur Ketenagaistrikkan ESDM, Andy N Sommeng, dan Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), Sofya Basir.

Jonan menjelaskan sejak dimulai pada pertengahan 2015, total yang sudah Commercial Date Operation (COD) atau sudah beroperasi mencapai 1.362 MW. Lalu sejumlah 17.116 MW sudah dalam tahap konstruksi dan sebagian besar lainnya telah kontrak serta sisanya, atau 13 persen, sedang dalam tahap pengadaan dan perencanaan.

“Rambahan kapasitas sebesar itu sudah cukup untuk menjawab peningkatan kebutuhan listrik di tahun 2019,” kata Jonan.

Menurutnya, perkiraan 35.000 MW dapat selesai di 2019 karena asumsi pertumbuhan ekonomi nasional di atas 7 persen. Sedangkan realisasinya untuk beberapa tahun terakhir dan yang akan datang, pertumbuhan ekonomi nasional masih di angka 5 persen. Sehingga peningkatan kelistrikkan pada 2019 baru 20.000 MW.

Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir mengungkapkan, secara total kemajuan pembangunan proyek 35.000 MW sudah mencapai 30 hingga 40 persen. “Kalau ditanya 35.000 MW sudah selesai dalam dua tahun pasti saya berbohong. Tapi, kalau berbicara progress pembangunnnya, sudah sesuai rencana yaitu 30 sampao 40 persen,” kata Sofyan.

Sofyan merinci estimasi masa pembangunan pembangkit. Untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) memakan waktu sekitar 5-6 tahun, panas bumi (PLTP) bisa 5-6 tahun, pembangkit listrik di atas 600 MW mencapai 6 tahun, dan di bawah 600 MW dan 300 MW membutuhkan waktu 3 tahun. “Yang lebih cepat itu (pembangkit) gas bisa 8 bulan sampai 1 tahun,” papar Sofyan.

Salah satu bukti kemajuan adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa 7, PLTU Jawa 9, PLTU Jawa 10 dengan total kapasitas 4.000 MW yang baru diresmikan Persiden Jokowi pada 5 Oktober 2017. Selain itu, masih ada PLTU Jawa I di CIlacap yang penyelesainnya sudah mencapai 37 persen.

Di samping program 35.000 MW, pemerintah juga tengah menyelesaikan proyek 7.000 MW sebagai kelanjutan Fast Track Program (FTP) I, FTP II dan Regular. Hingga Januari 2018 rotal sebanyak 6.424 MW atau sekitar 82 persen sudah bisa beroperasi, dan hanya 1.407 MW atau 18 persen yang masih tahap konstruksi. (Gadih)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*