EIA Laporkan Stok Minyak AS Melonjak

18800
Konsumsi Listrik Lebaran Jawa-Bali Diprediksi Mencapai 16.000 MW
Foto : bisnis.com

NEW YORK (INDOPETRO)- Stok atau inventori minyak negara super power satu-satunya di dunia, Amerika Serikat (AS) melonjak naik. Berapa volume kenaikannya?

Menurut laporan US Energy Information Administration (EIA) stok minyak AS mengalami kenaikan sebesar lebih dari 3 juta barel dalam periode sepekan sebelumnya. Padahal estimasi awal hanya diperkirakan mencapai 2.40 juta barel saja. Persediaan gasolin juga meningkat sebanyak 2.48 juta barel. Hal ini berlawanan dengan tren musiman, karena biasanya inventori bahan bakar tak bertambah selama masa maintenance di pabrik-pabrik pengilangan.

“Utilitas pengilangan masih rendah, jadi semestinya kita melihat persediaan lebih rendah. Akan tetapi, (masalahnya) belum ada permintaan (bahan bakar) yang kuat,” ujar Ehsan Ul-Haq, direktur produk minyak mentah dan produk hasil pengilangan di Resource Economist Ltd, sebagaimana dikutip oleh MarketWatch, Jumat (2/3/2018). Padahal impor gasolin juga rendah, katanya.

Permintaan gasolin di AS biasanya baru mulai meningkat menjelang liburan musim panas yang dimulai sekitar 28 Mei 2018.

Selain peningkatan inventori AS, harga minyak juga ditekan oleh laporan EIA lainnya. Menurut EIA, peningkatan produksi minyak mentah AS telah mencapai rekor tinggi baru pada level 10.283 juta barel per hari.

“Kekhawatiran sedang meningkat mengenai melonjaknya produksi minyak AS, kalau-kalau ini dapat menyebabkan pasar global bergeser dari dinamika yang agak seimbang menjadi surplus,” kata Tyler Richey, salah satu penulis review pasar terkemuka, Sevens Report. Dia juga mengatakan pada 2018, output minyak AS dalam laju menuju peningkatan 3 juta barel per hari (bph). Itu lebih tinggi dibanding ekspektasi EIA (sebelumnya) akan kenaikan 1 juta bph per akhir 2018.

Sebelumnya, dengan estimasi total produksi AS melesat hingga melampaui 11 juta bph di akhir tahun 2018, EIA memperkirakan negeri Paman Sam akan menggantikan Rusia menjadi produsen minyak terbesar dunia. Kondisi tersebut menumpulkan dampak kesepakatan pemangkasan output yang dilaksanakan oleh Rusia, Arab Saudi, dan sejumlah produsen minyak lainnya sejak awal 2017. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*