Stok LNG Indonesia Memadai

31000
Petronas Kirim Kargo LNG Pertama ke S-Oil Korsel
Foto : linkedin.com

JAKARTA (INDOPETRO)- Kekhawatiran terjadi kekurangan persediaan LNG atau gas alam cair seiring membludaknya permintaan pasar global ditepis oleh pemerintah.

“Enggak, LNG kita sangat cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan pasar,” kata Sukandar, Wakil Kepala (Waka) Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) pada sejunlah media, Kamis (1/3/2018) di Jakarta.

Menurutnya, SKK Migas menargetkan penjualan Liquefied Natural Gas (LNG) tahun ini meningkat 2,5% dari realisasi 2017. Alasannya kinerja produksi LNG sedang dalam kondisi bagus.

Menurutnya, SKK Migas tahun ini mentargetkan penjualan LNG sebesar 277 kargo atau setara 858,93 trillion british thermal unit (TBTU). Perinciannya 119 kargo dari kilang Tangguh, sementara 158 dari yang dikelola PT Badak NGL di Bontang Kalimantan Timur.

Sementara itu realisasi tahun lalu hanya 270 kargo. “Secara total meningkat dari 2017, data terakhir ini merupakan hasil konsolidasi yang melibatkan semua pihak terkait,” kata Sukandar.

Menurut data SKK Migas, selama kurun waktu tiga tahun terakhir penjualan kargo LNG mengalami penurunan. Misalnya 2015 realisasi LNG sebanyak 298 kargo, tertinggi sepanjang kurun waktu tiga tahun terakhir. Namun pada 2016 menurun menjadi 290 kargo.

Adapun pemanfaatan LNG untuk dalam negeri hingga kini masih lebih kecil dibandingkan yang diekspor. Penyebabnya adalah minimnya infrastruktur LNG di dalam negeri.

Dari data SKK Migas terkait realisasi pemanfaatan gas bumi Indonesia 2017, tercatat pemanfaatan LNG untuk domestik sebesar 5,08% atau 312,4 BBUTD. Sedangkan LNG ekspor sebesar 25,15% atau 1.545,4 BBUTD.

Diketahui, pasar gas alam cair (LNG) global terus menantang ekspektasi para pengamat pasar, dengan pertumbuhan permintaan sebesar 29 juta ton menjadi 293 juta ton pada 2017, menurut LNG Outlook tahunan Shell. Pertumbuhan permintaan yang kuat tersebut konsisten dengan Shell LNG Outlook edisi pertama yang diterbitkan pada 2017.

Berdasarkan proyeksi permintaan saat ini, Shell melihat adanya kecenderungan
potensi kekurangan persediaan pada pertengahan tahun 2020, kecuali jika komitmen proyek baru produksi LNG segera dilakukan. Jepang tetap menjadi pengimpor LNG terbesar di dunia pada 2017, sementara Cina bergerak ke posisi kedua dikarenakan impor LNG Cina melonjak melebihi Korea Selatan. Total permintaan LNG di Cina mencapai 38 juta ton, hal ini merupakan hasil dari pertumbuhan dan kebijakan ekonomi yang terus berlanjut untuk mengurangi polusi udara melalui pengalihan batubara ke gas.

“Kami masih melihat permintaan yang signifikan dari importir tradisional di Asia dan Eropa, namun kami juga melihat LNG menyediakan persediaan energi yang fleksibel, andal dan bersih untuk negara-negara lain di seluruh dunia,” kata Maarten Wetselaar, Integrated Gas and New Energies Director di Shell. “Di Asia sendiri, permintaan naik sebesar 17 juta ton. Itu sama seperti hasil produksi LNG di Indonesia pada 2017, sebagai eksportir LNG terbesar kelima di dunia.”

Peran LNG dalam sistem energi global meningkat selama beberapa dekade terakhir. Sejak tahun 2000, jumlah negara yang mengimpor LNG telah meningkat empat kali lipat dan jumlah negara yang memasoknya hampir naik dua kali lipat. Perdagangan LNG meningkat dari 100 juta ton pada tahun 2000 menjadi hampir 300 juta ton pada tahun 2017. Jumlah gas tersebut sangat cukup untuk menghasilkan listrik bagi 575 juta rumah. Pembeli LNG terus menandatangani kontrak dengan jangka waktu yang lebih pendek dan dengan jumlah
yang lebih kecil. Pada 2017, jumlah spot kargo LNG yang terjual mencapai 1.100 untuk pertama kalinya, setara dengan tiga kargo yang dikirim setiap hari. Pertumbuhan ini sebagian besar berasal dari pasokan baru yaitu, Australia dan Amerika Serikat.

Ketidakcocokan persyaratan antara pembeli dan pemasok semakin meningkat. Sebagian besar pemasok masih mencari penjualan LNG jangka panjang untuk mendapatkan sumber pemasukan yang lebih stabil. Namun pembeli LNG semakin menginginkan kontrak yang lebih pendek, lebih kecil dan lebih fleksibel sehingga mereka dapat bersaing lebih baik di pasar energi dan gas hilir mereka sendiri.

Ketidakcocokan tersebut perlu diatasi agar pengembang proyek LNG dapat membuat keputusan investasi akhir yang diperlukan untuk memastikan persediaan bahan bakar ramah lingkungan untuk ekonomi dunia cukup memadai. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*