Kampung Bena, Destinasi Wisata Budaya di NTT

27100

NTT (INDOPETRO) – Wisata Kampung Bena berada di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Warga Kampung Bena masih memegang erat tradisi nenek moyang. Mereka sama sekali tidak mengikuti perkembangan zaman.

Kampung Bena merupakan salah satu kampung adat tertua di daratan Flores, NTT. Kampung itu terletak di kaki Gunung Inerie. Keunikan kampung itu tidak hanya sebatas bentuk rumah dan tradisinya. Ada juga pemandangan Gunung Inerie yang mempesona dan memanjakan.

Kampung Bena terdiri dari sembilan suku. Yaitu Bena, Dizi, Dizi Azi, Wahto, Deru Lalulewa, Deru Solamae, Ngada, Khopa, dan Ago. Total, ada 326 orang yang menempati 45 rumah kayu.

Rumah suku-suku itu hanya dipisahkan oleh tingkatan-tingkatan. Masing-masing suku menempati satu tingkat. Tingkat paling tengah dihuni oleh suku Bena. Sebab, suku itu dianggap paling tua dan menjadi pionir pendiri kampung.

Bentuk Kampung Bena memanjang dari utara ke selatan. Sekilas, terlihat seperti perahu. Pintu masuk Kampung Bena hanya dari utara. Sementara ujung lainnya di bagian selatan sudah merupakan puncak sekaligus tepi tebing yang terjal.

Banyak cerita tentang asal muasal kampung yang diperkirakan telah ada sejak 1.200 tahun lalu itu. Rumah ada Kampung Bena diperkirakan peninggalan era megalitikum. Penilaian tersebut berdasarkan rumah adat yang masih beratap alang-alang. Kemudian dipadu dengan susunan batu-batu gunung. Pada area halaman tengah (kampung) terdapat ngadhu dan bhaga, simbol hubungan kekerabatan antara leluhur dan generasi itu sampai selamanya.

Ngadhu merupakan representasi nenek moyang laki-laki dari satu klen (suku). Ngadhu tersimbol dalam bentuk sebuah tiang kayu memanjang yang diukir dengan motif sawa. Ia juga beratap alang-alang dan ijuk dengan dua tangan memegang parang dan tombak.

Di depan setiap rumahnya, biasanya akan ada tumpukan tengkorak kerbau yang disusun rapi. Tengkorak kerbau itu dari hasil upacara adat yang diadakan pemilik rumah. Semakin banyak tengkoraknya semakin tinggi status sosialnya.

Sedangkan Bhaga merupakan representasi nenek moyang perempuan dari sebuah suku. Warga Bena sebagian besar bermata pencarian sebagai petani. Selain hasil pangan jagung, umbi-umbian dan kacang-kacangan, mereka juga meraih penghasilan dari berkebun kopi, kemiri dan komoditas perkebunan lain yang tumbuh subur di kaki Gunung Inerie.

Kaum perempuan di sana terbiasa menenun untuk dijual ke para wisatawan atau ke Kota Bajawa. Keunikan kehidupan Kampung Bena yang masih bertahan tersebut menjadi daya pikat bagi wisatawan. Hebatnya, wisatawan yang datang tidak hanya dari lokal. Ada juga wisatawan mancanegara seperti dari Belanda, Jepang, Belgia dan negara Eropa lainnya.

Kabupaten Ngada berjarak kurang lebih 628 kilometer dari Ibu Kota Provinsi NTT, Kupang. Kabupaten Ngada bisa dituju menggunakan penerbangan pesawat langsung dari Bandara Kupang dengan estimasi waktu perjalanan satu jam.

Desa Bena letaknya sekitar 19 km dari Kota Bajawa. Perjalanan menuju ke Desa Bena bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Akses jalannya sudah cukup halus dan beraspal, tetapi jalannya berkelok-kelok dan naik turun.

Jika kamu datang dari Bandara Soa Kupang, perjalanan bisa dilakukan menggunakan travel ke Kota Bajawa. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menggunakan jasa ojek. Waktu tempuhnya kurang lebih setengah jam.

Untuk mengunjungi Desa Bena, wisatawan tidak perlu membayar tiket. Namun, ada donasi seikhlasnya saat mengisi buku tamu. Atau membeli karya tenun yang dibuat penduduk. Untuk penginapan, yang paling dekat yaitu Manulalu Bed & Breakfast. Penginapan itu juga unik. Design interiornya cantik. Dibalut europe vintage interior design. Penginapan itu berada di Bajawa, 20 menit dari tempat wisata Kampung Bena. Lokasinya tidak terletak di jalan utama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*