Penghapusan Direktorat Gas Pertamina Membingungkan

13700
eSPeKaPe: Selain Profesional, Dirut Baru Pertamina Harus Kuasai Hulu-Hilir Migas

JAKARTA (INDOPETRO)- Dihapusnya Direktur Gas seiring dengan terbitnya SK 039/MBU/02/2018 tentang Pemberhentian, Perubahan Nomenklatur Jabatan dan Pengalihan Tugas Anggota-anggota Direksi Pertamina, menimbulkan reaksi keras. Salah satunya dari Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB). Apa reaksinya?

“Kita tidak tahu Pertamina akan dibawa kemana dengan dihapusnya posisi Direktur Gas,” kata Noviandri, Ketua Umum FSPPB pada sejumlah media, Rabu (21/2/2018) di Jakarta. Padahal Pertamina akan banyak mengembangkan energi gas dan Energi Baru Terbarukan (EBT).

Menurut penuturan Noviandri, pihaknya telah mendialogkan perihal dihapusnya Direktur Gas kepada beberapa direksi Pertamina. Tapi mereka pun juga tidak mengerti. “Mereka tidak tahu bagaimana Pertamina ini akan diarahkan,” ujarnya. Padahal blok Mahakam yang telah menjadi hak kelola Pertamina, sebanyak 65% itu gas. Belum lagi blok-blok migas yang lain. “Jelas kebijakan ini menambah kebingungan kita,” tandasnya.

Diketahui, dalam rapat direksi pada 13 Februari 2018, Deputi Bidang Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengatakan, telah diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) bahwa pemegang saham menyetujui mencabut posisi Direktur Gas dan dipecah menjadi Direktur Pemasaran Corporate dan Direktur Logistik, Suplai Chain dan Infrastruktur. Dengan demikian Yenny Handayani diberhentikan sebagai Direktur Gas Pertamina.

“Alasan dihapusnya direktorat gas ini karena nantinya akan ditangani oleh holding minyak dan gas (migas) yang sedang dalam proses pembentukan yaitu dengan menggabungkan Pertamina dengan PGN (PT Perusahaan Gas Negara Tbk),” kata Fajar.

Sementara terkait isu Yenni Andayani (mantan Direktur Gas Pertamina yang dicopot) diplot untuk mengisi posisi Direktur Holding Migas, Wianda Pusponegoro selaku staf ahli Menteri BUMN, tidak menjawab pertanyaan yang diajukan indopetro sejak Rabu (14/2/2018). Begitupun Yenni Andayani. Indopetro mencoba meminta komentar perihal isu tersebut tetapi yang bersangkutan (Wianda dan Yenni) belum menjawab hingga berita ini ditulis. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*