Jangan Sampai PLN Jadi Perusahaan Lilin Negara

46700
Berhasil Terbitkan Global Bond 2019, PLN Terbukti Masih Laku Peminat
foto : jobs-like.com

JAKARTA (INDOPETRO)- Posisi PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) terjepit antara melonjaknya harga batu bara yang membara dengan kerugian yang bakal ditangguknya. Betapa tidak, perusahaan strum negara ini tidak dapat serta-merta menaikkan harga tarif listriknya.

“Bila tarif listrik dinaikkan maka yang dirugikan rakyat. Pemerintah sudah menentukan bahwa listrik tidak naik hingga Maret 2018. Bahkan mungkin hingga 2019,” kata dosen ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Fahmy Radhi dalam satu diskusi pada Rabu (21/2/2018) di Jakarta. Dan sebaiknya harga listrik tidak naik.

Penerapan Domestic Market Obligation (DMO) hanya berkisar 20%. “Porsi tersebut untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri atau PLN,” kata Fahmi. Selebihnya diekspor ke luar negeri.

Menurut Fahmy, saat ini harga batu bara cenderung naik. Bisa mencapai 100 USD per matric ton. Untuk PLN harga tersebut tidak ekonomis. “Bila PLN harus membeli dengan harga 80 USD per matric ton (seperti keinginan asosiasi pengusaha tambang) tentu PLN terancam bangkrut. Apalagi dengan harga 100 USD per metric ton,” tandasnya. Padahal perusahaan listrik plat ini telah berpotensi mengurangi labanya hingga 15 Triliun.

Dia mengusulkan harga batu bara yang ekonomis untuk PLN berkisar antara 60-70 USD per matric ton. Di luar PLN, berlakukan saja tarif sesuai pasar.

Lebih jauh Fahmy meminta agar pemerintah dapat menyelamatkan PLN dari ancaman kebangkrutan. Caranya? “Berlakukan jalan tengah. Sell gin and sell pain. Terapkan batas atas 65 USD. Sedang untuk batas bawah 55 USD,” paparnya.

Prinsip tersebut, imbuh Fahmy, seperti gotong royong. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. “Kalau harga 85 USD per metric ton sesuai permintaan pengusaha, ini serakah sekali,” tegas Fahmy seraya menghimbau agar pemerintah bisa menyelamatkan PLN tetapi juga tidak merugikan pengusaha batu bara. “Bila tidak, jangan-jangan nanti PLN berubah jadi Perusahaan Lilin Negara,” ujarnya.

Sebagai tambahan informasi, laba PLN hingga September 2017 tercatat Rp3,06 triliun. Labanya anjlok jika dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu Rp10,98 triliun. Bila hal ini tidak diatasi, dipastikan PLN bakal kolaps.

Padahal PLN diwajibkan merealisasi investasi program 35.000 MW. Kewajiban itu tidak termasuk pembangunan transmisi sepanjang 46.000 km dan Gardu Induk 108.000 MVA. Belum lagi adanya tugas sosial berupa listrik desa untuk daerah terluar, terpencil, dan tertinggal sekitar 5.000 desa.

Sementara penikmat terbesar ekspor adalah para petambang. PT Adaro Energy Tbk saja sampai triwulan III-2017 berhasil meraup laba US$495 juta, naik 76% dibandingkan periode yang sama tahun lalu atau setara dengan Rp6,6 triliun. Itu baru Adaro saja.

Diperkirakan 10 pengusaha besar batubara mendapat tambahan pendapatan sekitar Rp 60 triliun. Mereka inilah yang menguasai 60% produksi 461 juta ton pada 2017. Sementara tambahan royalti yang diterima negara hanya Rp1,3 triliun. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*