AS Susun Strategi Perang Migas di Timteng

31800
AS Susun Strategi Perang Migas di Timteng
Foto : ividinteractive.com

BEIRUT (INDOPETRO)- Pemerintah Amerika Serikat (AS) saat ini sedang menyusun strategi perang minyak dan gas (migas) di Timur Tengah. Peringatan keras tersebut muncul dari Sekretaris Jenderal (Sekjen) Gerakan Perlawanan Islam Lebanon (Hizbullah) Sayid Hasan Nasrullah. Dia memaparkan hal itu saat menjelaskan friksi perbatasan Lebanon dan rezim Zionis Israel serta desas desus sumber migas di perairan kawasan.

“Seluruh kawasan dalam situasi perang minyak dan gas,” kata Sayid Hasan Nasrullah, Jumat (16/2/2018) di acara peringatan para syuhada Hizbullah di Beirut. Inilah babak baru hegemoni Israel dan kekuatan besar lainnya terhadap sumber alam dan kekayaan kawasan termasuk sumber energi di Suriah dan Lebanon.

Ia mengingatkan Kawasan Timur Tengah mempunyai posisi strategis dan kekayaan alam yang akan senantiasa menjadi target kebijakan arogan kekuatan hegemoni dunia serta terus menjadi sasaran berbagai konspirasi. Di antara konspirasi tersebut adalah rencana Timur Tengah Raya yang digulirkan Amerika dengan tujuan menjamin keamanan Israel serta menguasai sumber energi di wilayah ini.

Dalam koridor analisa ini terkait berlanjutnya pergerakan militer Amerika di Suriah harus dikatakan bahwa meski kelompok teroris Daesh mengalami kekalahan di Suriah, masih ada ancaman pendudukan sebagian wilayah negara ini oleh Amerika. Hal ini dikarenakan ladang minyak dan gas Suriah berada di timur Furat.

Phil Butler, pengamat geopolitik menilai berlanjutnya keberadaan Amerika di Suriah dikarenakan Washington ingin menguasai minyak negara ini dan mengontrol jalur pipa minyak, bukannya isu keamanan. Butler menekankan bahwa AS sejak awal dengan merusak stabilitas Suriah ingin menguasai kekayaan alam dan jika negara lain tidak tunduk terhadap keinginannya, maka negara tersebut harus bersiap-siap mengalami perang proksi.

Krisis hubungan sejumlah negara Teluk Persia dimulai setelah kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Timur Tengah dan juga karena konspirasi Amerika serta sejumlah pemimpin Arab untuk menguasai gas Qatar. Mengingat masalah ini, dapat dikatakan bahwa AS berada di balik perang minyak dan gas di kawasan.

Dalam hal ini, pemerintahan Trump juga melihat Irak sebagai medan minyak dan dengan membangun beragam pangkalan militer, Washington berusaha menguasai ladang minyak Irak. Di sisi lain, selama beberapa hari terakhir kita menyaksikan pergerakan Israel untuk mengusai sumber minyak Lebanon di zona laut negara ini dan Amerika dengan kedok mediator untuk menyelesaikan konflik perbatasan Lebanon dan Israel serta dengan menebar agitasi, telah mempersiapkan upaya memajukan ketamakan Gedung Putih dan Tel Aviv di Beirut.

Diketahui, Menteri Peperangan Israel Avigdor Lieberman mengklaim bahwa blok sembilan ladang minyak dan gas Lebanon di laut Miditerania milik rezim Tel Aviv. Klaim tersebut menuai penentangan luas di kalangan petinggi Lebanon beberapa hari lalu.

Sementara itu, Amerika selama kunjungan Rex Tillerson ke Beirut menawarkan solusi untuk menyelesaikan friksi tersebut. Disebutkan bahwa prakarsa ini digulirkan berdasarkan teladan rencana Frederick Hoff yang diajukan beberapa tahun lalu.

Berdasarkan prakarsa ini, Amerika mengusulkan 60 persen sumber minyak di blok 9 diberikan kepada Lebanon, sementara 40 persen lainnya milik Israel. Namun Lebanon menyatakan menentang prakarsa yang diajukan Amerika tersebut dan mereka menegaskan akan melawan setiap konspirasi Amerika dan Israel. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*