Menangkap Cacing Laut di Festival Pesona Bau Nyale 2018

11000

MATARAM (INDOPETRO): Festival Pesona Bau Nyale 2018 akan berlangsung mulai 20 Februari sampai 6 Maret 2018. Pengunjung bisa ikut menangkap cacing laut di Pantai Seneg, Kuta, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Bau nyale merupakan kegiatan tradisional Suku Sasak. Secara harfiah, bau nyale adalah kegiatan menangkap cacing laut. Namun, Festival Pesona Bau Nyale (FPBN) 2018 tidak hanya berisi kegiatan menangkap cacing laut.

Banyak kegiatan yang dijamin bakal memanjakan wisatawan. Ada Kejuaran Voli Pantai Internasional, Mandalika Ethno Performance, Mandalika World Music Festival, Kejuaran Surfing dan Budaya Peresean. Kemudian ada Festival Kuliner, Pemilihan Putri Mandalika, Gelar budaya Betandaq, Parade Budaya, Mandalika Fashion Carnival serta Lomba Foto.

“Festival tahun ini dipastikan akan lebih seru. Lebih meriah. FPBN itu unik. Selalu menarik. Makanya selalu dibanjiri wisatawan,” kata Kepala Dinas Pariwisata NTB, Mohammad Faozal pada Sabtu (17/2/2018).

Pernyataan Faozal bukan sembarangan. Festival satu tahun sekali itu merupakan pesta budaya yang memiliki konsep berbeda. Festival ini mengandung filosofi yang luar biasa. Keunikan itulah yang membuat FPBN selalu ramai oleh wisatawan.

“FPBN sarat sejarah, kebudayaan, religi, kearifan lokal, dan kaya akan pesan moral dan sosial. Jadi FPBN tidak sekadar festival atau pesta kebudayaan biasa,” kata ia menambahkan.

Masyarakat Pulau Lombok mempercayai nyale atau cacing laut, sebagai jelmaan Putri Mandalika yang cantik. Putri Mandalika menceburkan diri ke laut sebagai pilihan. Ia tidak ingin terjadi pertumpahan darah antara para pangeran di Lombok, yang memperebutkan dirinya.

Uniknya, Nyale hanya bisa ditangkap setiap bulan Februari tanggal 20. Atau dalam perhitungan tanggal Suku Sasak, disebut 20 bulan 10. Penetapan malam puncak festival itu tidak sembarangan. Malam puncak Festival Pesona Bau Nyale diputuskan berdasarkan sangkep warge oleh tokoh masyarakat, tokoh budayawan, tokoh adat dan sesepuh adat lain. Tahun ini, puncak pengambilan nyale jatuh pada 7 Maret 2018 dini hari.

Dengan nilai budayanya yang kuat itu, Dispar NTB ingin menjadikan event Bau Nyale bukan sekadar seremoni. Tetapi bentuk keseriusan pemprov dan Kabupaten Lombok Tengah dalam melaksanakan kalender pariwisata. Terlebih pantai-pantai di kawasan Kuta sudah dikenal atas keindahannya.

Lombok memang dikenal memiliki banyak pantai yang indah, salah satunya Pantai Kuta. Pantai itu memiliki air laut yang jernih, hamparan pasir putih yang bersih. Siapapun yang datang akan dibuat terkesima.

Saking jernihnya air laut Pantai Kuta, wisatawan bisa melihat pemandangan bawah laut dari atas permukaan air. Di Pantai Kuta Lombok, wisatawan juga bisa melihat Bukit Mandalika. Beragam aktivitas laut pun dapat dilakukan wisatawan. Mulai dari berenang, bermain jet ski, banana boat hingga menyelam.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengapresiasi keseriusan Pemprov NTB dalam pengembangan dan penguatan pariwisata. Salah satunya, mengemas Festival Bau Nyale menjadi lebih atraktif. Sehingga wisatawan akan semakin tertarik datang ke NTB. Dan menikmati berbagai keindahan lainnya yang ada di NTB.

“Pemerintah sangat mendukung. Festival Bau Nyale telah dimasukkan ke dalam satu dari 100 calender of event pariwisata nasional,” kata Arief.

Menurut Menpar, nilai budaya yang kuat dari Bau Nyale sudah menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan sangat besar. Festival Bau Nyale mampu menarik wisatawan mancanegara yang gemar terhadap budaya. Tingkat ketertarikan wisman terhadap budaya mencapai 60 persen.

Sedangkan terhadap alam, ketertarikan wisatawan mancanegara mencapai 35 persen. Sementara untuk kerajinan tangan (manmade) lima persen. Dinas Pariwisata NTB dan Lombok Tengah berhasil mengemas Festival Bau Nyale menjadi pertunjukan yang inovatif dan memikat.

“Ini sangat kreatif. Setiap tahun kami melihat ada banyak perubahan yang terjadi. Kemasan acara semakin baik. Warga dan pemerintah sama-sama melestarikan budaya dengan baik seperti membangun infrastuktur yang bagus,” kata Arief mengakhiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*