Festival Pulau Untung Jawa 2018 Sandingkan Budaya Betawi dan Modern

41300

JAKARTA (INDOPETRO): Kemasan menarik disajikan dalam Festival Pulau Untung Jawa 2018, Kepulauan Seribu, Jakarta. Festival di Pantai Sakura padaSabtu (17/2), menyandingkan Budaya Betawi dan modern.

Pulau Untung Jawa lahir pada 13 Februari 1954. Hari lahir itu ditandai perpindahan penduduk dari Pulau Ubi ke Pulau Untung Jawa. Dan hingga saat ini, kearifan lokal tetap dipegang teguh  warga.

“Festival Pulau Untung Jawa selalu ditunggu wisatawan. Semua potensi dan kekayaan budaya Betawi disajikan di sini. Secara historis, Pulau Untung Jawa sangat kuat. Kami ucapkan selamat ulang tahun ke-64 Pulau Untung Jawa,” kata Bupati Kepulauan Seribu Irmansyah.

Banyak kemajuan yang dicapai pulau ini. Namun, masyarakatnya tetap mempertahankan budaya. Potensi tersebut akan menjadi daya tarik wiaatawan. Salah satu budaya yang diperlihatkan dalam festival yaitu Palang Pintu. Tradisi khas Betawi itu disajikan lengkap dengan pantunnya. Sebagai ucapan selamat datang bagi wisatawan. Kemudian Tari Ganjang ditampilkan.

Para pengunjung juga dihibur dengan Tari Lenggang Nyai. Tarian itu dibawakan siswi SMPN 285 Pulau Untung Jawa. Kesenian khas Betawi yang sudah sangat dikenal, Ondel-Ondel, tak lupa ditampilkan. Wisatawan juga diajak menyaksikan atraksi pencak silat dari Perguruan Ksatria Kera Putih.

Menariknya, aksi pencak silat khas Betawi itu dibuka oleh generasi milenial Pulau Untung Jawa. Demo jurus diawali kids zaman now laki-laki, lalu diteruskan perempuan. Dengan lincah, mereka unjuk kebolehan secara beregu.

Pada sesi berikutnya, giliran sesepuh dari Pulau Untung Jawa yang beraksi. Gerakan jurus kera hingga bangau diberikan. Aksi mereka ditutup demo duel tangan kosong.

“Apresiasi bagi kreativitas warga Pulau Untung Jawa. Peningkatan kualitas event sangat bagus. Harapan ke depannya bisa menarik lebih banyak wisatawan. Daya tarik Pantai Sakura ini kuat. Apalagi kalau pohon sakura di sini sudah berbunga,” kata PIC Kepulauan Seribu dan Kota Tua Dodi Riadi.

Nuansa Betawi semakin dipertegas dengan pertunjukan lenong. Pertunjukan itu yang paling ditunggu-tunggu. Wisatawan pun tampak memadati venue pertunjukan. Lakon yang diangkat adalah ‘Preman-Preman Tanjung Priok’.

Cerita ini dipilih agar ada ketegangan. Dan seperti biasa, penampilan lenong juga diwarnai guyonan khas Betawi. Sebelum pementasan lenong, pengunjung diberikan sajian musik gambang dan dangdut.

“Dengan kekuatan budaya dan alamnya, Kepulauan Seribu beserta Pulau Untung Jawa menjadi destinasi prioritas. Semuanya unik-unik di sini,” kata Dodi menambahkan.

Festival Pulau Untung Jawa juga memanjakan wisatawan dengan kuliner gratis. Menunya tetap tradisional Betawi, khususnya jajanan. Ada kue rangi, cucur, onde-onde, hingga ongol-ongol. Minumannya tak kalah spesial, yaitu es cendol.

Kuliner gratis itu menjadi salah satu favorit wisatawan. Buktinya, stan kuliner langsung ludes tak lama dibuka. Pulau Untung Jawa sendiri memiliki kuliner khas yaitu  keripik sukun. Panitia tidak melupakan kuliner tersebut. Lomba makanan olahan sukun menjadi ikut disajikan.

“Kuliner di sini nikmat dan jenisnya banyak. Festival Pulau Untung Jawa ini memang sangat kaya. Selain tradisional, mereka seni modern juga berkembang di sini,” kata Dodi melanjutkan.

Sedangkan seni modern dimunculkan dari paduan suara SDN 01 Pagi Pulau Untung Jawa. Sambil memainkan pianika, mereka membawakan lagu ‘Tidurlah’. Aksi dilanjutkan dengan lagu ‘Kita Bisa’ yang diiringi paduan suara.

Tari ‘Rainbow’ juga dibawakan dengan energik. Rangkaian aksi seni modern ditutup dengan aksi kekinian ‘Juara di Hati’. Penyelengggara juga menampilkan lagu-lagu melayu melalui Band Seroja.

Festival Pulau Untung Jawa memang pesta bagi semua. Sedikitnya 10 perlombaan digelar. Hadiah lomba yang diberikan menarik, apalagi disupport penuh oleh Asisten Deputi I. Selain olahan sukun, ada juga lomba holahop, balap karung, makan kerupuk, hingga sepeda hias.

Ada juga lomba tabur duit, melukis, joget jeruk, mancing botol, hingga fishing. Unjuk fisik, lomba tarik tambang digelar dengan lima orang setiap timnya. Nuansa bahari juga disajikan. Wisatawan diajak menikmati parade kapal hias. Ini bukan parade biasa, sebab ada penilaian yang diberikan Kemenpar. Kapal yang dinilai paling kreatif lalu diberikan apresiasi dengan total hadiah Rp 6,6 juta.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengapresiasi festival tersebut. Baginya, sebuah event memilikimanfaat ganda. Yaitu manfaat langsung dan tidak langsung. Manfaat yang pertama yaitu memperkenalkan destinasi. Yang kedua, bisa menjadi ikon untuk mendatangkan wisatawan langsung pada saat event berjalan.

Selanjutnya memacu masyarakat lokal dalam mengembangkan kreatifitas dan secara langsung terlibat dalam kepariwisataan. “Tidak kalah penting, sebuah event atau festival akan menggairahkan dan membangkitkan kesenian dan kebudayaan lokal yang merupakan modal dasar pembangunan kepariwisataan,” kata Arief.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*